Ketua Parsadaan Minta APH Tindak Tegas Perusakan Hutan Adat Tapsel
Ketua Parsadaan Rim Nitahi Haruaya Mardomu Bulung, Ahmad Kaslan Dalimunthe, mendesak aparat penegak hukum agar segera menindak para terduga pelaku perusakan hutan adat di Kabupaten Tapanuli Selatan. Desakan itu muncul menyusul laporan masyarakat tentang beroperasinya sejumlah excavator diduga untuk penanaman sawit, Senin (19/5), di kawasan hutan adat yang menjadi wilayah warisan leluhur.
Lokasi terdampak dan kronologi singkat
Aktivitas alat berat dilaporkan berlangsung secara terang-terangan di kawasan hutan adat Parsadaan Rim Nitahi Haruaya Mardomu Bulung. Wilayah adat ini mencakup empat kecamatan di Tapanuli Selatan, yaitu:
- Kecamatan Batang Angkola
- Kecamatan Angkola Selatan
- Kecamatan Sayurmatinggi
- Kecamatan Tano Tombangan (Tantom) Angkola
Menurut Ahmad Kaslan, keberadaan excavator memicu keresahan karena merusak kawasan yang selama ini dikelola dan dilindungi masyarakat adat.
Dampak lingkungan dan potensi bencana
Ahmad Kaslan mengingatkan bahwa pembukaan hutan secara ilegal berisiko merusak sumber mata air, mengganggu ekosistem, dan mengancam kehidupan warga yang bergantung pada hutan. Ia juga menyorot potensi bencana ekologis seperti banjir dan longsor jika pembukaan lahan terus berlangsung tanpa pengawasan.
Tuntutan tindakan tegas
Organisasi masyarakat setempat ikut mendesak tindakan aparat. Mereka meminta TNI, Polri, dan Kejaksaan turun tangan menindak pihak yang diduga melakukan perusakan.
"Kami meminta kepada APH, baik TNI, Polri, maupun Kejaksaan agar bertindak tegas terhadap para terduga perusak hutan di wilayah hutan adat kami,"
Ahmad Kaslan juga memperingatkan kemungkinan aksi langsung jika imbauan diabaikan.
"Kalau himbauan kami tidak dihiraukan, kami akan mengambil tindakan dengan turun langsung ke lokasi untuk menghentikan aktivitas tersebut,"
Permintaan investigasi dan tanggung jawab pemerintah
Masyarakat adat menuntut investigasi menyeluruh, termasuk penelusuran pihak yang memberikan izin atau membiarkan alat berat masuk ke kawasan adat. Ahmad Kaslan menegaskan bahwa perlindungan hutan adat adalah kewajiban bersama, bukan hanya tanggung jawab komunitas adat.
Sampai berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait dugaan operasi excavator di kawasan hutan adat tersebut.
Makna hutan bagi generasi mendatang
Di bagian penutup, Ahmad Kaslan menggarisbawahi nilai historis, sosial, dan budaya hutan adat. Ia memperingatkan bahwa kerusakan saat ini akan menjadi warisan buruk bagi anak cucu, termasuk kehilangan sumber air dan ruang hidup yang sehat.
"Kalau hutan habis dirusak, anak cucu kita nanti yang akan menanggung akibatnya... Ini bukan hanya soal kayu atau alat berat, tetapi soal masa depan generasi bangsa,"
Desakan agar aparat dan pemerintah daerah bertindak cepat menjadi kunci untuk mencegah meluasnya kerusakan dan menjaga keberlanjutan lingkungan di Tapanuli Selatan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Bapenda Sumut Sediakan Bus Bayar Pajak di Operasi Sadar Pajak Medan
Bapenda Sumut dan Ditlantas adakan Operasi Sadar Pajak di Medan dengan bus pajak keliling untuk memudahkan p...
Banjir Bosar Maligas, Polisi Evakuasi Pengendara di Simalungun
Banjir akibat luapan Sungai Perpayakan genangi jalan Bosar Maligas hingga 40 cm; Polsek turun tangan evakuas...
Polrestabes Medan Gerebek Kampung Narkoba di Desa Mencirim
Polrestabes Medan bersama BNN Sumut dan Dit Narkoba Polda Sumut menangkap bandar FI di Desa Mencirim dan men...
Yaspend Ahmad Yani Binjai Raih Juara Umum 1 POSI Sumut
SMP/SMA Yaspend Ahmad Yani Binjai meraih juara umum 1 POSI Sumut dan membawa 21 medali, hasil pembinaan ters...
Kemensos Salurkan Bantuan ke Korban Kebakaran di Medan Tembung
H.M Husni menyalurkan bantuan Kementerian Sosial untuk korban kebakaran di Jalan Suluh, Medan Tembung, pada...
Pemko Tanjungbalai Serahkan 40 Unit Bantuan untuk PKL Food Court
Pemko Tanjungbalai serahkan 40 unit bantuan gerobak dan tenda untuk PKL Food Court; penyaluran akan dilakuka...