Nasional

Pakar: Peran Manusia Kunci Cegah Karhutla di Musim Kemarau

Bagikan:
Ilustrasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan

Pakar menilai aktivitas manusia menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kemarau 2026. Mereka mengingatkan kondisi El Niño dan Indian Ocean Dipole memperbesar risiko penyebaran api. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Kondisi iklim yang memperparah risiko

Pakar TMC dan Dosen Geografi Universitas Indonesia, Asep Karsidi, mengatakan kemarau Agustus 2026 semakin intensif. Analisis BMKG dan NOAA menunjukkan 76,5 persen zona musim Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Asep menilai kombinasi musim kemarau aktif, El Niño kuat, dan kecenderungan Indian Ocean Dipole positif mengurangi pembentukan awan dan hujan. Ia menekankan kondisi ini bukan pemicu awal api, melainkan mempercepat penyebaran api.

Asep Karsidi: Indonesia menghadapi kombinasi musim kemarau aktif, El Niño sangat kuat, dan kecenderungan Indian Ocean Dipole positif. Kondisi ini mengurangi pembentukan awan dan hujan.

Aktivitas manusia sebagai pemicu utama

Para pakar sepakat aktivitas manusia menjadi faktor dominan. Cara membuka lahan dengan tebas bakar, kelalaian penggunaan api, dan pembakaran tak terkendali sering memicu kebakaran.

Raffles B Panjaitan: El Niño tidak menyalakan api, namun api tetap membutuhkan pemicu. Karena itu, pencegahan harus menyentuh perilaku orang yang beraktivitas di kawasan rawan.

Raffles juga mengingatkan aturan lokal tentang pembakaran terbatas sampai dua hektare per kepala keluarga bukanlah izin bebas. Pengawasan ketat dan ketentuan daerah yang lebih rinci diperlukan.

Tindakan kesiapsiagaan di daerah rawan

Asep meminta provinsi rawan meningkatkan kewaspadaan. Wilayah yang disebutkan meliputi:

  • Sumatra Selatan
  • Riau
  • Jambi
  • Kalimantan (wilayah rawan gambut)

Upaya yang direkomendasikan mencakup pemantauan titik panas, patroli terpadu, dan kesiapan pemadaman. Selain itu, pengendalian penggunaan api di lapangan dinilai krusial saat cuaca sangat kering.

  • Pemasangan sekat bakar
  • Patroli dan pengawasan langsung
  • Pembasahan gambut dan penyediaan sumber air
  • Respons cepat untuk membuka akses bagi tim pemadam

Raffles B Panjaitan: Menghalangi petugas pemadam sangat berbahaya. Perselisihan lahan atau klaim hak adat harus diselesaikan melalui mekanisme tersendiri.

Peran komunikasi dan masyarakat adat

Pakar komunikasi keberlanjutan dan Rektor UPN Veteran Jakarta, Prof. Anter Venus, menekankan strategi komunikasi partisipatif. Ia meminta penghormatan terhadap masyarakat adat sambil melibatkan mereka dalam pencegahan.

Anter Venus: Masyarakat adat jangan ditempatkan sebagai terdakwa kolektif. Penghormatan terhadap hak adat harus berjalan bersama kewajiban mencegah kebakaran.

Anter mengusulkan pesan pencegahan disampaikan melalui kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, perempuan, pemuda, dan petani. Bahasa lokal dan solusi praktis perlu diprioritaskan agar strategi diterima masyarakat.

Kesimpulan: Pakar mengingatkan bahwa pencegahan karhutla harus menyentuh perilaku manusia di lapangan. Kombinasi pengawasan ketat, patroli terpadu, pengaturan pembakaran lokal, dan komunikasi berbasis budaya menjadi kunci menurunkan risiko selama musim kemarau dan El Niño masih berlangsung.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait