Kerugian Rp40 Miliar akibat Penutupan Soekarno-Hatta oleh Abu Krakatau
Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta karena sebaran abu Gunung Anak Krakatau menimbulkan kerugian diperkirakan mencapai Rp40 miliar. Keputusan penutupan yang berlangsung selama dua hari itu diambil demi keselamatan penerbangan setelah BMKG melaporkan abu vulkanik yang cukup tebal. Pernyataan ini disampaikan Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Haryadi, pada 2 Oktober 2026 di Bandung.
Ringkasan kerugian dan durasi penutupan
Manajemen memperkirakan dampak finansial penutupan operasional bandara selama dua hari mencapai sekitar Rp40 miliar. Angka itu merupakan estimasi langsung dari hilangnya pendapatan layanan dan gangguan operasional. Meski besar, manajemen menegaskan keselamatan penumpang dan awak pesawat menjadi prioritas utama.
Jumlah penumpang dan bandara terdampak
Penutupan Soekarno-Hatta diperkirakan berdampak pada sekitar 130.000 penumpang. Jika digabungkan dengan penutupan atau gangguan di beberapa bandara lain, jumlah penumpang terdampak melampaui 200.000 orang. Bandara lain yang melaporkan gangguan antara lain Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Tanjung Karang, dan Bandara Husein Sastranegara di Bandung.
Alasan keselamatan dan pernyataan Angkasa Pura
Agus Haryadi menegaskan keputusan penutupan bukan pilihan ringan, melainkan langkah yang harus diambil untuk melindungi nyawa. Hasil pemeriksaan BMKG menjadi dasar teknis penutupan karena abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat dan menurunkan visibilitas.
"Kalau ngomong rugi, banyak ruginya. Rp 40 miliar ada kali dalam dua hari itu. Nah, tapi tentu kami tidak memikirkan itu,"
"Bapak dan Ibu, tentu penutupan ini bukan opsi, memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle,"
Agus juga menyampaikan bahwa penutupan total pada 6 September 2026 merupakan kejadian langka sejak ia mulai bertugas di Soekarno-Hatta pada 1992. Ia menekankan bahwa bahkan selama pandemi COVID-19, bandara tetap berstatus open, berbeda dengan penutupan akibat abu vulkanik kali ini.
"Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 1992, artinya sudah 35 tahun. Ini belum pernah mengalami penutupan bandara secara total,"
"COVID-19 pun tidak tutup, status bandara itu open. Kalau ini kemarin itu benar-benar close,"
Konteks dan prospek
Penutupan ini memperlihatkan kerentanan operasional bandara terhadap gangguan alam, terutama abu vulkanik. Pemerintah dan operator bandara kemungkinan akan mengevaluasi prosedur mitigasi dan komunikasi krisis untuk mengurangi dampak ekonomi dan sosial pada kejadian serupa di masa depan.
Mitigasi jangka pendek meliputi koordinasi intensif dengan BMKG, pengaturan ulang jadwal penerbangan, dan layanan informasi bagi penumpang terdampak. Dampak ekonomi jangka panjang akan tergantung pada frekuensi gangguan abu dan efektivitas langkah mitigasi yang diterapkan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Baznas Lindungi 100 Ribu Pekerja Rentan lewat JSB 2026
Baznas meluncurkan JSB 2026 untuk mengasuransikan 100.000 pekerja rentan dengan kepesertaan BPJS Ketenagaker...
Hari ke-21 SAR KM Virgo: 188 Dievakuasi, 55 Masih Dicari
Hari ke-21 SAR KM Virgo: 188 korban dievakuasi (108 selamat, 80 meninggal), 55 orang masih dicari dari manif...
Basarnas Kerahkan 1.200 Personel SAR, Operasi KM Virgo Hari ke-21
Basarnas kerahkan lebih dari 1.200 personel SAR dalam operasi hari ke-21 untuk mencari korban KM Virgo Trans...
55 Korban Hilang, Basarnas Lanjutkan Operasi SAR KM Virgo
Basarnas melanjutkan operasi SAR KM Virgo pada hari ke-21 untuk mencari 55 korban hilang; operasi disesuaika...
Kalaksa BPBD Jatim: 90%+ Karhutla Dipicu Aktivitas Manusia
BPBD Jatim: lebih dari 90% karhutla dipicu aktivitas manusia; kelalaian kecil seperti puntung rokok bisa mem...
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...