Waketum MUI: Pemimpin Harus Adaptif di Era Digital
Wakil Ketua Umum MUI, Marsudi Syuhud, menegaskan bahwa pemimpin perlu bersikap adaptif terhadap perubahan sosial dan transformasi digital agar mampu meninggalkan karya nyata bagi umat dan organisasi. Pernyataan itu disampaikan saat Silaturahmi Nasional Majelis Alumni IPNU di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
Adaptasi kepemimpinan di tengah perubahan
Marsudi mengatakan tuntutan terhadap pemimpin semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi. Karena itu, menurutnya, pemimpin wajib memahami dinamika zaman tanpa mengabaikan nilai dan prinsip dasar kepemimpinan.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak cukup berupa janji atau narasi; harus terwujud dalam program kerja yang konkret dan berdampak. Pendekatan ini dianggap penting agar kepemimpinan memiliki legacy yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Seorang pemimpin di tingkat mana pun wajib memiliki legacy atau peninggalan karya nyata. Karya yang dirasakan manfaatnya oleh umat dan organisasi,"
— Marsudi Syuhud
Digitalisasi sebagai instrumen organisasi dan dakwah
Marsudi menegaskan bahwa digitalisasi tidak sekadar perubahan teknologi. Pemanfaatan teknologi harus menjadi bagian dari tata kelola organisasi dan aktivitas dakwah untuk memperluas jangkauan dan efektivitas.
"Digitalisasi bukan sekadar tren. Tetapi melainkan instrumen penting dalam tata kelola organisasi modern dan dakwah masa kini," ujarnya.
Menurut Marsudi, kemampuan mengadopsi teknologi juga krusial untuk membangun komunikasi dengan generasi muda yang tumbuh sebagai digital native. Teknologi dapat memperkuat hubungan antara pemimpin dan generasi penerus.
Fiqhud Daulah: tiga tatanan organisasi
Dalam paparan yang sama, Marsudi merujuk pada konsep Fiqhud Daulah yang memuat tiga tatanan utama dalam berorganisasi dan bernegara. Ketiganya dijelaskan sebagai kerangka kerja untuk menyusun kebijakan dan program.
- Lit Ta'lif — mengonstruksikan ide dan merumuskan gagasan;
- Lil Jam'i — menyatukan perbedaan dan membangun kebersamaan;
- Wat Ta'awuni 'ala Asybaabil Ma'isyah — bekerja sama untuk kesejahteraan hidup.
Pada aspek lit Ta'lif, Marsudi mengingatkan pentingnya merancang gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi program kerja konkret agar kepemimpinan benar-benar meninggalkan bekas yang berguna.
Peserta dan implikasi
Silaturahmi Nasional Majelis Alumni IPNU dihadiri tokoh antara lain Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Muhammad Yusuf Chudlori, Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustofa, serta Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Masykuri Abdillah.
Pernyataan Marsudi menegaskan arah yang diharapkan bagi pemimpin masa depan: menggabungkan nilai-nilai fondasional organisasi dengan pemanfaatan teknologi agar tetap relevan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BGN Aktifkan 114 Dapur MBG di Wilayah Prioritas Pekan Depan
BGN akan mengaktifkan 114 dapur MBG pekan depan untuk wilayah stunting tinggi dan daerah 3T; penentuan lokas...
Puan Minta Nakes Kedepankan Empati pada Pasien BPJS
Puan Maharani minta tenaga kesehatan kedepankan empati dan dorong evaluasi layanan setelah kasus pasien BPJS...
BGN Buka 3 Jalur Pengaduan untuk Program MBG
BGN membuka tiga PO Box pengaduan untuk memperkuat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis dan mempercepat t...
BGN Bahas Teknologi Pendeteksi Makanan Basi Bersama BRIN
BGN akan membahas teknologi pendeteksi makanan basi bersama BRIN pekan depan untuk memperkuat keamanan panga...
Kemenhut Tutup Pendakian Gunung Gede Pangrango Pascakebakaran
Kemenhut menutup sementara jalur pendakian Gunung Gede Pangrango 7–11 Agustus 2026 setelah kebakaran lahan d...
BGN Pasang Label Waktu pada Ompreng MBG untuk Cegah Risiko Pangan
BGN mewajibkan label batas waktu pada ompreng MBG untuk mencegah konsumsi makanan yang melewati batas aman d...