Marsudi: Dinamika Jelang Muktamar NU Bagian Proses Regenerasi
Marsudi Syuhud, Wakil Ketua Umum MUI, menilai dinamika yang muncul menjelang Muktamar Nadhlatul Ulama (NU) merupakan bagian dari proses regenerasi organisasi. Pernyataan itu disampaikan saat acara Silaturahmi Nasional Majelis Alumni IPNU di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026. Menurut Marsudi, banyaknya kader yang mencalonkan diri justru menunjukkan kaderisasi NU berjalan baik dan terbuka.
Dinamika kontestasi sebagai tanda kaderisasi
Marsudi menekankan bahwa arena pencalonan di NU bersifat terbuka. Siapa pun kader berkesempatan tampil, sehingga kemunculan banyak nama merupakan indikator positif. Ia menegaskan, jika calon yang muncul sedikit, itu yang perlu dipertanyakan.
Kontestasi di NU bersifat terbuka, siapa pun kader memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri. Kalau calon yang muncul justru sedikit, itu yang perlu dipertanyakan
Kaderisasi sebagai ruang pengalaman
Menurut Marsudi, NU memiliki ekosistem kaderisasi yang panjang melalui pesantren, lembaga, dan badan otonom. Proses ini memberi kader ruang untuk memperoleh pengalaman, membangun kedewasaan berpikir, dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
Insya Allah, para calon pemimpin NU hari ini juga dapat menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Mereka ditempa melalui proses yang panjang sehingga memahami bagaimana memimpin umat, organisasi, sekaligus menghadapi tantangan zaman
Dua bentuk perubahan yang harus dihadapi
Marsudi membagi perubahan menjadi dua bentuk: perubahan yang direncanakan dan perubahan yang memaksa organisasi beradaptasi. Ia menggunakan istilah at-taghyīr al-ikhtiyārī untuk perubahan terprogram dan at-taghyīr al-ijbārī untuk perubahan yang mendesak.
Untuk perubahan terprogram, organisasi perlu arah yang jelas dan target jangka menengah hingga panjang. Marsudi menekankan pentingnya kaderisasi berjenjang untuk menyiapkan tokoh sesuai jenjangnya.
Human resource harus dibangun secara berjenjang. Tokoh-tokoh nya dipersiapkan sejak awal sehingga pada waktunya mereka siap di jenjangnya masing-masing, itulah fungsi kaderisasi yang sesungguhnya
Sementara perubahan yang memaksa, menurutnya, tidak bisa diatasi secara instan. Sistem kaderisasi yang baik membantu meminimalisasi dampak perubahan mendadak.
Implikasi bagi NU dan masa depan kepemimpinan
Marsudi menilai kaderisasi berkelanjutan akan membentuk pemimpin yang adaptif sekaligus memahami sejarah dan perjuangan organisasi. Dengan demikian, NU diharapkan mampu menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sembari merespons tantangan zaman yang berubah cepat.
Yang paling penting, seorang pemimpin harus adaptif terhadap perubahan
Penekanan pada persiapan kader dan kepemimpinan adaptif memberi gambaran bahwa proses regenerasi tidak hanya soal pergantian jabatan, tetapi juga soal kesiapan menghadapi dinamika sosial dan teknologi ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Pangan Bukan Instrumen Tekanan Geopolitik
Mendag Budi Santoso menegaskan pangan tak boleh jadi alat tekanan geopolitik dan mendorong solusi WTO untuk...
MenPPPA Pastikan Pendampingan Terbuka bagi Korban Perundungan
MenPPPA Arifah Fauzi memastikan layanan pendampingan tetap tersedia bagi anak korban perundungan; Kemenkes b...
Kemenperin Buka Ruang Gen Z untuk Kembangkan Industri Batik
Kemenperin ajak Gen Z berperan dalam pengembangan industri batik melalui desain, teknologi, dan pemasaran di...
Tokoh Konghucu Budi Tanuwibowo Masuk Wantimpres
Budi Tanuwibowo dilantik jadi anggota Wantimpres; ia terharu karena komunitas Konghucu yang minoritas mendap...
MenPPPA Pastikan Penanganan Perundungan Anak di Tangsel
MenPPPA Arifah Fauzi pastikan penanganan dugaan perundungan anak di Tangerang Selatan prioritaskan keamanan,...
Komdigi Minta Operator Ubah Paket Non-Rollover
Komdigi minta operator segera ubah paket non-rollover agar sisa kuota dilindungi secara ekonomi, bukan hanya...