Ekonomi

KAI Jajaki Pembiayaan Campuran untuk Proyek Kereta Ramah Lingkungan

Bagikan:
Kereta ramah lingkungan PT KAI di stasiun sebagai ilustrasi proyek pembiayaan hijau

PT Kereta Api Indonesia (Persero) sedang menjajaki skema pembiayaan campuran untuk proyek kereta ramah lingkungan. Inisiatif ini dibahas dalam diskusi nasional di Jakarta pada 11 Juni 2026. Tujuannya adalah mengatasi keterbatasan anggaran negara dan membuka peluang pembiayaan non-konvensional bagi pengembangan sistem transportasi massal.

Penjajakan instrumen hijau oleh PT KAI

Vice President of Sustainability PT KAI, Tria Mutiari Meilan, menyampaikan bahwa seluruh rencana pembangunan perkeretaapian akan dijadikan aset dasar untuk menarik investor global. Saat ini pendanaan masih sepenuhnya internal, namun perusahaan terbuka terhadap kolaborasi eksternal.

Namun demikian untuk saat ini memang kami masih full internal pendanaannya. Sehingga untuk kedepannya, tadi juga sudah saya sampaikan harapan ya, bahwa eh justru dari kegiatan seperti ini, kami akan sangat terbuka apabila terdapat peluang-peluang untuk berkolaborasi

Manajemen PT KAI tengah mengkaji penerbitan instrumen investasi berwawasan lingkungan. Pilihan yang dipertimbangkan meliputi green bond dan sukuk hijau untuk menarik minat pembiayaan dari pasar modal dan lembaga internasional.

Dukungan pemerintah dan revisi RIPNAS

Kementerian Perhubungan menyatakan dukungan terhadap alternatif pembiayaan hijau dalam peninjauan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS). Andi Guntur Asapa, Koordinator Kelompok Evaluasi dan Pelaporan, menegaskan pentingnya menyesuaikan proposal proyek dengan standar internasional.

Tadi Ibu juga sudah menyinggung terkait pembiayaan hijau ya, green finance juga sangat menjadi isu besar ya di global. Kami juga dengan keterbatasan pembiayaan juga sangat mendukung dengan adanya alternatif pembiayaan tersebut

Andi menyoroti perlunya pengukuran penurunan emisi karbon secara presisi. Penghitungan yang kredibel menjadi kunci untuk menarik donor internasional dan memastikan proyek memenuhi kriteria kelayakan finansial global.

Skema campuran dan peran BPDLH

Konsultan Irawati Hermawan mengusulkan skema pembiayaan campuran atau blending sebagai solusi. Perancangan struktur pembiayaan melibatkan kombinasi dana hibah, pinjaman lunak, dan modal swasta agar biaya pendanaan lebih murah dan terjangkau.

Jadi selama 1,5 tahun ini dengan berbagai macam rapat, termasuk rapat-rapat yang dihadiri oleh Bappenas, Kementerian Keuangan, PT SMI, PT IIF, memang kita sudah mengusulkan adanya innovative financing untuk alternatif financing yang non-konvensional. Di antaranya adalah blending atau campuran

Irawati menyambut peran Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang mampu mengelola dana donor internasional dan mengombinasikannya dengan pinjaman berbiaya rendah. Kehadiran BPDLH dinilai memberi peluang mendanai transisi energi dengan biaya yang lebih kompetitif.

Dampak dan prospek

Jika berhasil, skema pembiayaan kreatif ini akan mempercepat pembangunan transportasi massal yang lebih ramah lingkungan. Model pembiayaan campuran juga berpotensi menjadi contoh bagi sektor infrastruktur lain di Indonesia.

Proses selanjutnya adalah penyusunan proposal green project sesuai kriteria internasional dan penjajakan dengan calon investor serta lembaga donor untuk merealisasikan pendanaan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait