Lokal

Banjir Rendam Kopdeskel Bakaran Batu di Rantauprapat

Bagikan:
Bangunan Kopdeskel Bakaran Batu terendam banjir di Rantauprapat

RANTAUPRAPAT — Hujan deras pada Minggu (25/10) menyebabkan banjir yang merendam bangunan Kopdeskel Koperasi Merah Putih di Jalan SM Raja, Aek Tapa, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu. Genangan mengancam kondisi fisik gedung yang baru selesai dibangun dan belum sempat digunakan.

Banjir menyasar gedung baru

Hujan deras membuat air menggenang di dalam dan sekitar bangunan Koperasi Merah Putih (Kopdeskel) Bakaran Batu. Lokasi yang selama ini rawan tergenang terlihat kembali penuh air setelah curah hujan meningkat.

Akibatnya, warga khawatir bangunan yang seharusnya mendukung aktivitas ekonomi kelurahan justru mengalami kerusakan sebelum difungsikan. Risiko akan meningkat jika air tidak segera surut.

Kekhawatiran warga dan nilai proyek

Warga setempat menilai pembangunan di lokasi rawan banjir menimbulkan potensi kerugian negara. Mereka menyebut besaran anggaran pembangunan cukup besar.

Menurut keterangan warga, biaya pembangunan fisik per unit mencapai Rp1.658.000.000, dengan angka yang disebut-sebut sekitar Rp2.938 per meter persegi. Besaran anggaran ini membuat masyarakat semakin risau melihat bangunan terendam.

Suara warga soal perencanaan lokasi

Warga menyoroti proses pemilihan lahan untuk bangunan koperasi. Mereka bertanya apakah pihak perencana tidak mengetahui lokasi tersebut sering tergenang saat hujan.

"Seharusnya sebelum pembangunan dilaksanakan, apakah mereka tidak mengetahui lokasi ini hampir setiap hujan selalu banjir dan terendam air," kata beberapa warga Bakaran Batu.

"Bagaimana bisa berfungsi secara baik Kopdeskel Bakaran Batu ini dan seharusnya sebelum pembangunan harus dipikirkan," tambah warga lainnya.

Dampak dan langkah yang diperlukan

Selain potensi kerusakan fisik, banjir dapat menunda operasional koperasi yang ditujukan untuk memperkuat perekonomian kelurahan. Jika tidak ada tindakan cepat, kerugian finansial dan fungsional bisa berlanjut.

Warga berharap pemerintah daerah atau pihak terkait segera meninjau lokasi, melakukan perbaikan drainase, atau mempertimbangkan relokasi agar investasi tidak sia-sia dan fasilitas dapat beroperasi sesuai tujuan.

Situasi ini menempatkan fokus pada perlunya perencanaan lokasi yang mempertimbangkan risiko banjir, agar fasilitas publik yang dibangun dengan anggaran besar dapat berfungsi optimal dan tahan terhadap cuaca ekstrem.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait