Ekonomi

Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000

Bagikan:

Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan, Kamis, 1 Oktober 2026. Mengacu data Bloomberg, rupiah turun 0,14 persen atau 25 poin ke posisi Rp17.919 per dolar AS, setelah pada penutupan Rabu menguat ke Rp17.894 per dolar AS.

Pembukaan pasar dan pergerakan awal

Pembukaan yang melemah ini menunjukkan volatilitas pada pasar valas domestik. Perubahan arah terjadi meski rupiah sempat menguat signifikan pada penutupan hari sebelumnya, yaitu 0,48 persen atau 87 poin.

Analisis teknikal

Analis Pasar Uang MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai rupiah rawan terdepresiasi terhadap dolar AS jika tekanan teknikal berlanjut. Menurut Herditya, area kunci yang perlu dicermati berada di level Rp17.954.

"Kami mencermati dari sisi teknikal, pergerakan Rupiah nampaknya rawan terdepresiasi terhadap dolar AS,"

Herditya memperkirakan bila rupiah menembus level tersebut, mata uang domestik berpotensi menguji rentang Rp17.987–Rp18.062 per dolar AS. Sementara itu, dalam skenario terbaik menurut analis, rupiah masih berpeluang menguat ke kisaran Rp17.836–Rp17.880 per dolar AS.

Faktor global yang memengaruhi

Dinamika eksternal menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Herditya menyebutkan dua indikator utama: indeks dolar AS yang menguat dan imbal hasil obligasi AS yang tinggi.

Pada hari yang sama, indeks dolar AS bergerak di kisaran 101,45–101,48, yang merupakan level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun juga meningkat ke level 5,29 persen.

Potensi dampak dan prospek

Kekuatan dolar dan imbal hasil tinggi berpotensi memicu aliran keluar modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Aliran modal keluar akan memberi tekanan negatif pada nilai tukar rupiah dan meningkatkan risiko pengujian level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Dengan kondisi teknikal yang rawan dan faktor eksternal yang masih kuat, pelaku pasar disarankan memantau level-level kunci yang disebutkan untuk menilai arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait