IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada sesi I, Kamis, 1 Oktober 2026. IHSG turun 50,44 poin atau 0,83 persen ke level 6.020,69 karena meningkatnya volatilitas global dan penyesuaian portofolio investor. Perdagangan sesi pertama mencatat nilai transaksi tinggi dan tekanan jual yang dominan.
Pergerakan pasar pada sesi I
Indeks dibuka di level 6.062,84 dan bergerak tertekan sepanjang sesi. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.095,23 dan terendah 6.018,79. Tekanan jual mendominasi sehingga indeks berakhir di zona merah.
Data perdagangan
Aktivitas perdagangan pada sesi I menunjukkan likuiditas yang cukup tinggi. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp5,094 triliun dengan volume 20,253 miliar saham. Jumlah transaksi mencapai 877.145 kali.
Dari pergerakan saham, 433 saham melemah, 219 saham menguat, dan 134 saham stagnan.
Faktor pemicu koreksi
Pelemahan didorong oleh meningkatnya volatilitas pasar global dan rotasi portofolio investor. Pelaku pasar juga mencermati data ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi kebijakan The Fed.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai tekanan pada IHSG berpotensi berlanjut. Menurut riset mereka, beberapa faktor yang memengaruhi antara lain volatilitas global serta adaptasi aturan baru di bursa.
Kombinasi tingginya volatilitas dari global, adaptasi beragam peraturan baru di Bursa Efek, dan situasi dan kondisi yang belum stabil dari dalam negeri. Masih akan membuat IHSG mungkin akan kembali mengalami tekanan hari ini.
Perhatian terhadap indikator inflasi AS
Pelaku pasar juga mengamati data Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed. Kenaikan inflasi bulanan membuat pelaku pasar menunggu data tambahan sebelum memperkirakan arah suku bunga selanjutnya.
Dampak kebijakan domestik
Pemerintah menyiapkan perluasan kebijakan ekonomi untuk 2027 yang berpotensi memengaruhi pasar domestik. Rencana kebijakan meliputi:
- Perluasan insentif PPh 21
- PPN Ditanggung Pemerintah untuk pembelian rumah
- Program magang dan vokasi
Perluasan PPh 21 berpotensi mendorong konsumsi rumah tangga. Sementara insentif perumahan dan KPR berbunga 6% berpotensi memperkuat permintaan properti serta memberikan efek berganda terhadap sektor konstruksi dan industri terkait.
Namun, Pilarmas mengingatkan perluasan insentif juga dapat meningkatkan kebutuhan belanja atau mengurangi penerimaan negara. Efektivitas kebijakan akan bergantung pada ketepatan sasaran dan kapasitas fiskal.
Prospek sesi kedua
Investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan global dan domestik pada sesi kedua. Level 6.000 disebut sebagai area kunci yang akan diperhatikan dalam menentukan arah lanjutan pergerakan IHSG.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...