Ekonomi

Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah menuju Rp17.966 per dolar AS

Rupiah menutup perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, melemah 0,40 persen menjadi Rp17.966 per dolar AS. Pelemahan dipicu sentimen eksternal terkait prospek pembicaraan AS-Iran dan pergeseran ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, meski data domestik menunjukkan perbaikan aktivitas manufaktur dan surplus neraca perdagangan.

Tekanan eksternal: pembicaraan AS-Iran dan kebijakan energi AS

Ketidakpastian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan aset berisiko, termasuk rupiah. Presiden AS menepis kabar akan memberi keringanan sanksi atau mencairkan dana Iran, namun pasar juga mencermati pembicaraan soal kemungkinan pelarangan ekspor diesel (solar) dari AS.

Rencana pelarangan itu penting karena harga solar di AS tercatat tinggi, mencapai sekitar USD 6,53 per galon, sementara cadangan solar berada pada level terendah dalam sejarah. Ketidakpastian kebijakan energi ini menambah volatilitas kurs.

Di sisi lain, Trump juga mengatakan masih membahas kemungkinan pelarang ekspor solar AS. Sebelumnya Gedung Putih membantah laporan mengenai rencana larangan ekspor solar selama 90 hari,

Sentimen pasar dan ekspektasi suku bunga The Fed

Data inflasi AS berupa PCE (Personal Consumption Expenditures) menunjukkan kenaikan hanya 0,2 persen pada Agustus, di bawah perkiraan. Angka yang lebih rendah memberi ruang bagi pelaku pasar untuk menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober.

Imbasnya, probabilitas kenaikan suku bunga di pasar berkurang tajam menjadi sekitar 34 persen, turun dari hampir 70 persen pada awal pekan. Para pelaku pasar kini menantikan rilis laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat untuk petunjuk lebih lanjut arah kebijakan moneter.

Kondisi domestik: manufaktur menguat, perdagangan surplus

Dari sisi domestik, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan indeks di angka 52,4, di atas level ekspansi 50.

Selain itu, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ditopang oleh ekspor yang mencapai USD 26,61 miliar, sedangkan impor tercatat USD 23,06 miliar.

Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai USD26,61 miliar,

Kinerja ekspor tersebut tumbuh 6,72 persen secara tahunan pada Agustus 2026, sementara impor naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025.

Prospek dan risiko ke depan

Rupiah tetap rentan terhadap guncangan eksternal, terutama perkembangan geopolitik dan indikasi kebijakan energi AS. Di sisi lain, perbaikan PMI dan surplus perdagangan memberi sedikit dukungan bagi mata uang domestik.

Pasar akan terus memantau rilis data ketenagakerjaan AS dan pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa hari ke depan sebagai penentu arah volatilitas kurs.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait