IHSG Diprakirakan Konsolidasi Menjelang Data Inflasi 1 Okt 2026
Pelaku pasar menunggu rilis data inflasi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik pada Kamis, 1 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diprakirakan akan konsolidasi setelah penutupan sebelumnya turun.
Proyeksi IHSG dan aktivitas investor
Menurut Tim Analis Pasar Modal dari Phintraco Sekuritas, IHSG secara teknikal diperkirakan bergerak di kisaran 6.000-6.200. Sebelumnya, indeks ditutup turun 0,83 persen ke level 6.071.
Penurunan akhir September disertai aksi jual bersih oleh investor asing sebesar Rp1,56 triliun. Saham yang paling banyak dilepas asing antara lain:
- TLKM
- BMRI
- BBCA
- ASII
- BBRI
IHSG hari ini secara teknikal masih konsolidasi pada kisaran 6000-6.200
Perkiraan inflasi September 2026
Pasar menanti angka inflasi bulanan yang menurut konsensus diperkirakan naik menjadi 0,31 persen untuk September 2026. Pada Agustus, inflasi bulanan tercatat 0,21 persen.
Secara tahunan (yoy), inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,3 persen dari 3,19 persen pada Agustus. Inflasi inti juga diproyeksi naik menjadi 3,0 persen dari 2,92 persen.
Dampak anggaran subsidi dan harga minyak
Tim Phintraco mencermati pembentukan anggaran subsidi dalam APBN 2027 yang dipatok sebesar Rp261,5 triliun. Angka itu turun sekitar Rp11,4 triliun dari rencana awal Rp272,94 triliun pada Nota Keuangan dan RAPBN 2027.
Jika kenaikan harga minyak berlanjut hingga tahun depan, maka berpotensi membuat inflasi cenderung bertahan di level tinggi
Neraca perdagangan: surplus dan kinerja ekspor-impor
BPS juga merilis data neraca perdagangan hari ini. Phintraco memperkirakan surplus neraca perdagangan meningkat menjadi USD600 juta pada Agustus 2026, naik dari USD130 juta pada Juli 2026.
Namun, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat menjadi 4,2 persen secara tahunan pada Agustus, turun dari 6,05 persen di Juli. Sebaliknya, impor diperkirakan berakselerasi kuat menjadi 31,7 persen dari 7 persen sebelumnya.
Indeks PMI manufaktur
Indeks S&P Global Manufacturing PMI untuk Indonesia diperkirakan kembali berada di zona ekspansi pada 50,3 pada September. Sebelumnya, PMI manufaktur tercatat di level kontraksi 49,8.
Ringkasnya, pasar menunggu data inflasi dan neraca perdagangan yang menjadi penentu sentimen jangka pendek. Pergerakan IHSG selanjutnya akan sangat tergantung pada data resmi BPS dan perkembangan harga minyak global.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Konsolidasi, Analis Waspadai Fluktuasi Tinggi
IHSG diperkirakan berkonsolidasi di kisaran 6.050-6.200 pada 30 Sept 2026, didorong aksi jual asing dan teka...
UPT Kementan dan BPDP Gelar Pelatihan Pupuk Organik di Kalteng
UPT Kementan dan BPDP menggelar pelatihan pupuk organik di Palangka Raya (29 Sep-2 Okt 2026) untuk 56 petani...
Pelemahan Rupiah Tipis ke Rp17.981, Tekanan Dolar dan RAPBN 2027
Rupiah ditutup melemah tipis ke Rp17.981 pada 29 September 2026, terdorong penguatan dolar AS dan pengesahan...
Banggar dan Pemerintah Sepakati Belanja APBN 2027 Rp4.106 T
Banggar DPR dan Pemerintah sepakati postur APBN 2027: belanja Rp4.106,26 triliun, pendapatan Rp3.435,10 tril...
Pemerintah Perkuat Ekonomi Domestik untuk Hadapi Volatilitas Global
Pemerintah perkuat ekonomi domestik lewat penciptaan lapangan kerja dan dorongan ekspor untuk merespons vola...
APBN 2027 Beri Afirmasi untuk Kawasan 3T dan Pendidikan Gratis
APBN 2027 memprioritaskan kawasan 3T lewat percepatan infrastruktur dan pilot project pendidikan gratis seni...