Teknologi

Bali Tech Week 2026 Targetkan 5.000 Peserta untuk Tarik Investasi Digital

Bagikan:

Pemerintah menyasar peningkatan investasi di sektor digital melalui Bali Tech Week 2026, yang dijadwalkan berlangsung 19–23 Oktober 2026 di Sanur, Bali. Penyelenggara menargetkan 5.000 peserta dari 37 negara untuk menghadiri rangkaian acara dan konferensi internasional.

Target acara dan perkembangan pendaftaran

Penyelenggara mengumumkan acara bakal menggabungkan 13 konferensi internasional dan program teknologi yang difokuskan pada penguatan infrastruktur digital dan kepastian regulasi. Hingga konferensi pers, tercatat 1.785 pendaftar untuk konferensi utama, masih di bawah target 4.000 peserta.

Meski demikian, termasuk program lain di dalam rangkaian acara, panitia memproyeksikan total kehadiran mencapai target 5.000 peserta dari 37 negara. Pemerintah berharap pertemuan ini membuka peluang investasi dan kolaborasi lintas-negara.

Regulasi dan jaminan persaingan

Menteri Komunikasi dan Informatika Meutya Hafid menyatakan pemerintah akan memanfaatkan forum untuk menyerap masukan terkait regulasi yang mendukung investasi jangka panjang. Dia menekankan pentingnya kepastian aturan untuk kenyamanan investor.

"The regulations we will issue won’t come as a surprise, but rather are predictable so that investors will feel comfortable,"

"Our goal for this event, aside from attracting investment, is to ensure that the government is present to guarantee fair competition and, secondly, to ensure predictable regulations that are acceptable to all parties,"

Meutya juga menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan persaingan yang adil antara investor asing dan pelaku usaha domestik, termasuk startup lokal.

Fokus program dan sektor

Rangkaian acara akan mencakup 13 program lintas sektor yang dirancang untuk memperkuat ekosistem digital nasional. Topik utama meliputi:

  • konektivitas digital
  • keamanan siber
  • kecerdasan buatan
  • pengembangan game
  • fintech
  • pusat data

Peluang investasi dan kebutuhan infrastruktur

Dari perspektif industri, Direktur Jaringan Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, menekankan bahwa pembangunan ekosistem digital membutuhkan investasi berkelanjutan pada infrastruktur seperti kabel bawah laut, jaringan serat optik, pusat data, cloud, dan keamanan digital.

"We need collaboration, both among domestic industry players and with regional industry players,"

Budi mengingatkan investasi-infrastruktur tersebut memerlukan iklim usaha yang stabil karena sifatnya jangka panjang. Ia berharap Bali Tech Week menghasilkan inisiatif konkret, bukan sekadar pertukaran gagasan.

Dampak ekonomi dan perlindungan publik

Meutya mengutip proyeksi e-Conomy SEA bahwa ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$99 miliar pada 2025 dengan pertumbuhan 14% secara tahunan. Pemerintah melihat sektor ini sebagai salah satu pendukung target pertumbuhan ekonomi 8% per tahun.

"High economic growth is meaningless if, for example, the public isn’t protected from the effects that actually harm society due to the negative excesses of digitalization,"

Selain mendorong investasi, pemerintah juga menekankan pentingnya perlindungan publik melalui peningkatan keamanan siber dan langkah mitigasi dampak negatif teknologi. Penguatan kolaborasi antara pemerintah dan swasta dianggap kunci agar kemajuan teknologi menjawab kebutuhan publik konkret.

Dengan agenda yang meliputi investor, pembuat kebijakan, dan pelaku industri, Bali Tech Week 2026 diharapkan menjadi wadah untuk mempercepat realisasi investasi infrastruktur digital dan pembentukan regulasi yang stabil.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait