KNKT: Taksi Berada di Posisi Netral Sebelum Kecelakaan Kereta Bekasi
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan bahwa sebuah taksi listrik Green SM berada pada posisi transmisi netral saat berhenti di atas rel sebelum tabrakan kereta api di Bekasi Timur. Temuan awal ini disampaikan Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, dalam rapat kerja Komisi V DPR pada Kamis, 21 Mei 2026.
Temuan awal dan kondisi kendaraan
KNKT menyatakan kendaraan bergerak dari arah utara menuju selatan dan sempat berhenti di jalur rel yang memiliki kemiringan sekitar 2,9 persen. Untuk mengurai penyebab insiden, tim investigasi mengunduh data dari on-board unit kendaraan.
Hasil analisis awal menunjukkan tidak ada rekaman error pada sistem dari data satu jam sebelum kejadian. Kepala KNKT menjelaskan data itu memberikan gambaran langkah demi langkah pergerakan taksi sebelum kecelakaan.
"Data on-board unit kendaraan B 2864 SBX tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem berdasarkan data satu jam sebelum kejadian,"
Kronologi pergerakan menurut data on-board
Dari unduhan data, KNKT mencatat kendaraan awalnya berjalan normal saat transmisi berada di posisi D. Saat menurun, kecepatan tercatat sekitar 15 km/jam.
Ketika memasuki perlintasan sebidang, pengemudi mencoba menekan pedal gas. Pertama pengemudi menekan hingga sekitar 25 persen, namun kendaraan tidak bergerak karena transmisi tercatat masih pada posisi netral (N).
Pengemudi kemudian meningkatkan tekanan gas sampai 51 persen, tetapi mobil tetap tidak bergerak dan akhirnya berhenti di atas rel. Data juga menunjukkan pengemudi sempat mengembalikan transmisi ke posisi D, namun selang beberapa saat transmisi berpindah lagi ke posisi P (parkir). Dalam kondisi transmisi berpindah tersebut, pengemudi berkali-kali menekan pedal gas namun kendaraan tetap diam.
Respons parlemen dan pemerintah
Komisi V DPR memberi perhatian khusus terhadap insiden kecelakaan kereta Argo Bromo Anggrek yang menabrak taksi tersebut. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengatakan peristiwa itu harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan.
"Oh ya setiap kecelakaan itu kan buat membuat pelajaran. Yang penting buat kita tentunya dan itu harus harus diikuti dengan perbaikan,"
Temuan awal KNKT menyorot posisi transmisi dan respons kendali saat kejadian. Penyidikan lanjutan diperlukan untuk memastikan faktor teknis, human error, atau kombinasi keduanya, serta rekomendasi keselamatan yang akan diajukan untuk mencegah kejadian serupa.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPR Minta Antisipasi Relokasi Industri Otomotif yang Ancaman PHK
Pulung Agustanto minta pemerintah antisipasi relokasi dua pabrik komponen otomotif Jepang; potensi 7.000 PHK...
HKTI Gelar Rembug Peternak, Sepakati Harga Ayam dan Telur
HKTI menginisiasi Rembug Peternak (6 Juli 2026) untuk atasi masalah perunggasan; disepakati harga ayam hidup...
Prabowo: Hubungan Indonesia-Singapura Istimewa dan Dipenuhi Kepercayaan
Presiden Prabowo sebut hubungan Indonesia-Singapura istimewa dan berlandas kepercayaan usai Leaders' Retreat...
Mentrans: Transmigrasi Kini Targetkan Industrialisasi dan Investasi
Menteri Transmigrasi menyatakan transmigrasi kini diarahkan jadi pusat investasi dan industrialisasi untuk m...
Jasa Marga Lakukan Pemeliharaan Tol Cipularang-Padaleunyi hingga 11 Juli
Jasa Marga melakukan pemeliharaan di Tol Cipularang dan Padaleunyi pada 5–11 Juli 2026 untuk rekonstruksi pe...
Akses KPR MBR Diperluas lewat Optimalisasi SLIK
Pemerintah optimalisasi SLIK sejak 1 Juli 2026 untuk memperluas akses KPR bagi MBR dan mempercepat Program T...