Politik

Hari Sumpah Pemuda: Mengembalikan Jiwa Kebangsaan Lewat Literasi

Bagikan:
Pemuda menghayati lagu kebangsaan dan membaca buku sebagai simbol kebudayaan

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, pengalaman menyanyikan lagu kebangsaan di panggung besar mengingatkan kita pada kebutuhan jiwa kebangsaan yang lebih dalam: bukan sekadar melafalkan lirik, melainkan menghayati sejarah, identitas, dan tanggung jawab kebudayaan. Momen-momen seperti Anggun C. Sasmi membawakan "Tanah Airku" di GBK dan Agnez Mo menyanyikan "Indonesia Raya" di Mandalika menunjukkan bahwa penghayatan bisa menimbulkan haru nyata.

Momen panggung yang lebih dari sekadar performa

Ketika penyanyi meneteskan air mata di panggung, itu bukan sekadar lip sync atau tampilan teknik vokal. Itu adalah respons emosional terhadap narasi besar tentang bangsa. Bagi banyak penonton, momen itu memicu rasa bangga dan haru yang autentik.

Namun, penghayatan semacam ini tidak otomatis dimiliki oleh semua generasi muda hari ini. Ada jurang antara kebiasaan menonton dan kemampuan meresapi makna di balik simbol-simbol kebangsaan.

Krisis literasi di era algoritma

Generasi muda hidup dalam arus konten pendek dan doomscrolling nonstop. Algoritme media sosial menghasilkan kepuasan instan, tetapi seringkali mengikis kedalaman berpikir. Kita tahu tren hari ini, namun kehilangan waktu untuk membaca dan merenung.

Akibatnya, pengetahuan yang tampak luas seringkali hanya serpihan dangkal. Ini bukan sekadar masalah gaya hidup; ia berimplikasi pada kemampuan kritis dan daya tahan budaya bangsa.

Pelajaran dari para pendiri dan pemikir

Sejarah memperlihatkan bahwa tokoh-tokoh pembentuk bangsa menempatkan literasi dan kecintaan budaya sebagai fondasi. HOS Tjokroaminoto menanamkan kebiasaan membaca yang membentuk Sukarno muda. Bung Karno menekankan bahwa setelah merdeka, ancaman terbesar adalah penjajahan kebudayaan.

Tokoh lain seperti Bung Hatta yang membawa peti berisi buku saat pembuangan, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan Soe Hok Gie menunjukkan bahwa nasionalisme tanpa tradisi membaca rentan menjadi sekadar retorika.

  • HOS Tjokroaminoto: literasi sebagai modal berpikir kritis
  • Sukarno: penghayatan sejarah yang memunculkan keteguhan
  • Bung Hatta & Sjahrir: nasionalisme yang rasional dan berbasis ilmu
  • Soe Hok Gie & Tan Malaka: catatan dan analisis sebagai bentuk cinta tanah air

Menuju kemandirian kebudayaan

Menghayati lagu kebangsaan sampai merasakan getarannya adalah langkah awal untuk merebut kembali ruang batin dari cengkeraman layar gawai. Kemandirian budaya berarti bangga pada identitas, membaca sejarah, dan memilah budaya asing dengan kacamata kritis, bukan sekadar terjebak FOMO.

Jika generasi muda mematikan sementara daya tarik algoritme, kembali membuka buku, dan meresapi narasi kebangsaan, api perjuangan intelektual yang pernah dinyalakan para pendiri akan menemukan pijakan baru.

Indonesia bukan sekadar tagar yang cepat lenyap; ia adalah ikrar peradaban yang menuntut ketajaman pikir, kemandirian budaya, dan keheningan yang melahirkan penghayatan. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait