Politik

Ina Ammania: Guru Madrasah Jangan Serahkan Pendidikan ke AI

Bagikan:
Suasana acara NGOPI Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah di Bondowoso

Bondowoso, 26 Oktober 2026 — Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania mengingatkan guru madrasah untuk tidak menyerahkan proses pendidikan sepenuhnya kepada artificial intelligence. Pernyataan itu disampaikan pada kegiatan Ngobrol Pendidikan Agama Islam (NGOPI) yang digelar Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah di Ballroom Hotel Ijen View, Bondowoso.

AI sebagai alat bantu, bukan pengganti

Ina mengatakan perkembangan internet, telepon pintar, dan AI mengubah cara siswa mengakses pengetahuan. Siswa kini mudah mencari informasi, menerjemahkan, dan mendapatkan jawaban instan. Namun, kemudahan itu tidak menghapus peran guru dalam pembentukan karakter dan bimbingan moral.

Ia menegaskan tugas guru melampaui pengajaran materi. Selain memastikan pemahaman pelajaran, guru harus membentuk kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Guru tidak hanya membantu siswa menjadi pintar, tetapi juga membimbing mereka menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, berakhlak mulia dan peduli terhadap sesama.

Kearifan pedagogis: memahami murid terlebih dulu

Ina menyoroti pentingnya kearifan pedagogis. Guru perlu memahami kondisi dan kebutuhan peserta didik sebelum memilih metode pengajaran. Contohnya, bila siswa mendapat nilai rendah di Matematika, guru harus mencari akar masalahnya.

AI mungkin bisa menyediakan latihan tambahan. Namun, guru yang bijak akan menggali apakah penyebabnya berupa ketidakpahaman materi, masalah percaya diri, atau kondisi keluarga.

Verifikasi konten agama dan etika digital

Dosen Universitas At Taqwa Bondowoso Bachtiar Rifai menambahkan, AI harus digunakan sebagai salah satu sumber belajar, bukan satu-satunya. Ia mengingatkan pentingnya verifikasi informasi, khususnya untuk materi agama.

Teknologi informatika itu dijadikan sebagai salah satu saja, sebagai salah satu sumber belajar, tapi bukan satu-satunya.

Rifai mencontohkan bahwa penjelasan hadis perlu ditelusuri sumber dan status kesahihannya. Informasi tentang Al-Qur'an harus diperiksa berdasarkan surah, nomor ayat, terjemahan, dan tafsir.

Keduanya sepakat AI berguna untuk mempercepat pencarian pengetahuan, tetapi guru wajib menggunakan kompetensi keilmuan dan pertimbangan kritis sebelum menyampaikan hasilnya kepada siswa.

Etika penggunaan teknologi di sekolah

Selain verifikasi, Ina mengingatkan perlunya penguatan etika digital. Guru harus membimbing siswa menggunakan AI secara jujur dan bertanggung jawab. Pencegahan penyebaran informasi keliru dan perundungan digital juga menjadi tanggung jawab pendidik.

Guru yang hebat bukan hanya guru yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan guru yang mampu menggunakan ilmu dan teknologi dengan bijaksana dalam membentuk manusia yang cerdas, berkarakter dan berakhlak mulia.

Kesimpulan

Pesan utama dari acara NGOPI ini jelas: AI memperkaya metode pembelajaran, tetapi tidak menggantikan keteladanan, bimbingan moral, dan kearifan guru. Implementasi teknologi harus disertai verifikasi konten, perhatian pada kondisi murid, dan penguatan etika digital agar pendidikan mencetak insan berkarakter.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait