Politik

Polusi Udara Surabaya Naik, Pemkot: Truk Industri dan Komuter Penyebab

Bagikan:
Kabut polusi di atas kawasan industri dan jalan raya Surabaya

Surabaya — Kualitas udara Kota Surabaya meningkat tajam pada Senin (26/10/2026). Data indikator IQAir dan AccuWeather mencatat indeks PM2.5 di angka 120–153, yang masuk kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif. Pemerintah Kota Surabaya menyebut dua penyebab utama: pergerakan truk industri di koridor Tandes–Margomulyo dan lonjakan komuter harian dari wilayah aglomerasi.

Data dan kondisi terkini

Pemkot Surabaya memantau kualitas udara menggunakan alat ukur miliknya. Hasil pemantauan menunjukkan 20 persen kondisi udara berada pada kategori baik, sedangkan 80 persen berkategori sedang.

Tingkat konsentrasi emisi tertinggi terekam konsisten pada rentang dini hari hingga pagi, yakni pukul 00.00 hingga 09.00 WIB.

Penyebab utama: truk industri dan komuter

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan dua faktor utama yang memicu lonjakan polusi. Pertama, arus truk industri yang padat melintasi koridor Tandes–Margomulyo, area yang banyak berdiri pabrik. Kedua, serbuan sekitar 4,5 juta komuter harian dari wilayah aglomerasi yang masuk keluar kota.

"Tempat di Tandes itu, di Margomulyo itu, adalah pabrik; keluarnya dari seluruh Jawa Timur yang punya pabriknya yang ada di Margomulyo masuk ke pabriknya lewat di situ. Jadi full memang,"

Eri menambahkan bahwa Margomulyo merupakan jalan provinsi dan nasional. Status hukum itu membuat Pemkot tidak memiliki kewenangan penuh untuk melarang pergerakan armada industri di koridor tersebut.

Dampak waktu dan wilayah

Bukan hanya lokasi, waktu juga menentukan. Menurut pemantauan, puncak konsentrasi emisi terjadi pada jam-jam awal hari. Selain itu, kepadatan kendaraan komuter menimbulkan macet parah pada jam sibuk.

"Kepadatan di Surabaya itu jam 06.00 sampai jam 08.00 pada waktu masuk... ketika jam 16.00 sampai jam 19.30 itu arah yang keluar kota Surabaya," ujar Eri, menjelaskan pola pergerakan harian yang memperburuk emisi.

Solusi jangka panjang: integrasi transportasi aglomerasi

Pemkot menilai perbaikan transportasi dalam kota saja tidak cukup. Eri menekankan perlunya kolaborasi dengan daerah penyangga seperti Gresik, Lamongan, Mojokerto, dan Sidoarjo untuk mengurangi kendaraan pribadi yang masuk kota.

Sebagai solusi permanen, pemerintah daerah setempat dan aglomerasi menyepakati pembangunan Surabaya Regional Railway Line (SRLR). Pembangunan direncanakan dimulai awal 2027 dengan target operasi antara 2028–2029, ditopang moda pengumpan Wira-Wiri.

"Di titik berhenti menuju ke tempat kerjanya, sudah ada Wira-Wiri yang disediakan... Biayanya tidak terlalu mahal,"

Pemkot berharap integrasi moda dan tarif terjangkau dapat mengurangi emisi kendaraan bermotor dan beban biaya pekerja.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait