Politik

Mbah Jenggot: Bertahan Menjaga Langen Tayub di Tuban

Bagikan:
Mbah Jenggot sedang mempersiapkan pertunjukan Langen Tayub di Tuban

TBAN — Sejak 2001 Suparminto, yang akrab dipanggil Mbah Jenggot, menjadi cucuk lampah untuk pertunjukan Langen Tayub di Kabupaten Tuban. Ia mengurus persiapan, menghubungkan pelaku seni, dan memastikan pertunjukan berjalan, namun harus bekerja sebagai buruh ketika undangan sepi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Peran cucuk lampah di balik panggung

Peran cucuk lampah tidak sekadar memandu jalannya pertunjukan. Pekerjaan itu meliputi penyiapan penari, koordinasi pengrawit, penataan panggung, hingga pengaturan interaksi antara penampil dan penonton.

Mbah Jenggot menjelaskan bahwa tanpa kerja-kerja di belakang layar, sebuah pementasan Langen Tayub sulit terlaksana. Ia menjadi penggerak sekaligus penghubung antar-unsur seni agar semua bagian bisa saling melengkapi.

Pendapatan fluktuatif: panggung ramai, panggung sunyi

Menjaga tradisi tidak selalu menjamin penghasilan tetap. Ketika undangan datang berturut-turut, penghasilan membantu kebutuhan rumah tangga. Sebaliknya, saat panggung sepi, para pelaku seni harus mencari pekerjaan lain.

“Ketika ramai tanggapan, ya alhamdulillah bisa untuk keluarga. Tapi ketika sepi job, sepi tanggapan, saya juga seperti masyarakat biasa, harus jadi pekerja buruh,”

Sebagian pelaku seni mengambil pekerjaan serabutan, kuli bangunan, atau pekerjaan fisik lain untuk memastikan dapur tetap mengepul. Realitas ini menunjukkan rentangnya kesejahteraan di antara pemangku tradisi.

Upaya pelestarian dan dukungan institusi

Mbah Jenggot menyambut baik inisiatif pagelaran yang digagas pemangku kepentingan lokal dan provinsi. Ia memberi apresiasi khusus kepada Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Ony Setyawan, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur atas pagelaran yang membuka ruang tampil bagi Langen Tayub di Tuban.

“Harapan saya, seni Langen Tayub ini terus hidup, dan pelaku seninya juga bisa hidup sejahtera. Perhatian dari Pak Ony Setyawan ... sangat kami apresiasi,”

Menurutnya, pagelaran berkala tidak hanya menghidupkan seni untuk satu malam, tetapi juga memberi kesempatan kerja dan menjaga keberlanjutan ekosistem kesenian.

Penutup: antara cinta budaya dan kebutuhan hidup

Kisah Mbah Jenggot menggambarkan sisi lain pelestarian budaya: kerja yang sering tak terlihat dan pilihan hidup yang sulit. Ia tetap bertahan karena kecintaan pada Langen Tayub sekaligus kebutuhan untuk menghidupi keluarga.

Pelestarian tradisi, kata Mbah Jenggot, perlu dukungan berkelanjutan—ruang pentas, kesempatan berkarya, dan perhatian pada kesejahteraan pelakunya—agar warisan budaya tidak hanya hidup dalam kenangan, tetapi juga memberi kehidupan bagi mereka yang merawatnya.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait