Komisi VII Minta Indikator Program UMKM Diperjelas
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati, meminta agar indikator keberhasilan program UMKM diperjelas untuk mengukur capaian dan ketepatan penggunaan anggaran. Permintaan disampaikan saat pembahasan rencana kerja dan anggaran Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Permintaan perincian indikator dan KPI
Rahayu menekankan perlunya indikator yang konkret dan dapat diukur, serta disertakan pada pembahasan anggaran berikutnya. Menurutnya, tanpa indikator yang jelas, sulit menilai efektivitas program dan penggunaan dana.
“Saya hanya menyebut satu kata kunci saja yang sebenarnya bukan untuk dijawab sekarang tetapi untuk menjadi bahan berikutnya. Tapi masih belum saya lihat secara menyeluruh atau detail, yaitu satu kata kuncinya adalah indikator,”
Sorotan pada masalah missing middle
Politikus itu kembali mengingatkan masalah missing middle dalam pemberdayaan UMKM. Ia menegaskan UMKM tidak hanya mencakup usaha ultra mikro, tetapi juga usaha kecil dan menengah.
“Saya pernah menyampaikan sebelumnya ke Pak Menteri soal missing middle. Karena sepertinya memang masih banyak yang belum paham, UMKM ini kan juga bukan hanya ultra mikro tapi juga kecil dan menengah,”
SAPA UMKM dan target One Data 2027
Rahayu menaruh harap pada program SAPA UMKM untuk mendukung penerapan One Data pada 2027. Data terintegrasi itu diharapkan memberi gambaran kuantitatif tentang pelaku usaha yang berhasil naik kelas setelah mendapat pelatihan dan pendampingan.
“Jadi indikator berapa banyak nih, apalagi dengan SAPA UMKM kan harapannya sudah ada One Data. Dengan One Data ini harapannya masuk di dalam 2027, itu bagaimana bisa memberikan gambaran nanti kepada Komisi VII dan kepada publik,”
Data penerima manfaat dan risiko penghitungan ganda
Rahayu juga mengingatkan agar data penerima manfaat program Prokesra tidak menggambarkan jumlah berlipat bila satu pelaku usaha mendapatkan beberapa intervensi. Contoh yang disebut adalah pelaku yang menerima pelatihan, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan Nomor Induk Berusaha (NIB) sekaligus.
Ia menilai kondisi tersebut bukan masalah jika intervensi benar-benar diberikan dan dimanfaatkan penuh. Namun penghitungan dan pelaporan harus mampu menunjukkan ketepatan sasaran.
Indikator kenaikan kelas UMKM
Untuk mengukur dampak program, Rahayu mendorong indikator yang memetakan kenaikan kelas UMKM. Pengukuran itu harus mencakup perpindahan status usaha, antara lain:
- Ultra mikro ke mikro
- Mikro ke kecil
- Kecil ke menengah
Ia menegaskan bahwa selain indikator, perlu juga KPI yang jelas untuk menilai ketepatan alokasi anggaran dan keberhasilan program.
Dengan indikator dan KPI yang terukur, Komisi VII berharap evaluasi program UMKM menjadi lebih transparan dan akuntabel, sehingga penggunaan anggaran dapat lebih tepat sasaran ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Guru PPPK Bisa Ikut Seleksi CPNS Mulai 2027
Pemerintah memberi kesempatan guru PPPK mengikuti seleksi CPNS mulai awal 2027 untuk menata status dan menin...
Warna Lukisan Le Mayeur Memudar, Kemenbud Kirim Tim Konservasi
Kemenbud kirim tim Galeri Nasional untuk menilai dan menangani pemudaran warna pada lukisan Museum Le Mayeur...
1.931 Video Ikut Lomba 'Aku dan Budayaku' Angkat Budaya RI
Sebanyak 1.931 video mengikuti lomba 'Aku dan Budayaku', dipublikasikan di YouTube, Instagram, dan TikTok, k...
Pelindo Solusi Maritim Salurkan Bantuan TJSL untuk Korban Gempa NTT
PSM menyalurkan bantuan TJSL untuk korban gempa NTT lewat kolaborasi dari Tanjung Priok; dikirim menggunakan...
Usai Muktamar NU ke-35, Kiai Kampung Minta Jaga Tradisi
Usai Muktamar NU ke-35 (31/8/2026), seorang kiai kampung mengingatkan pentingnya menjaga tradisi NU yang hid...
Rutan Cipinang Budidayakan 500 Ayam Petelur untuk Pembinaan Warga Binaan
Rutan Cipinang budidayakan 500 ayam petelur sebagai program pembinaan kemandirian warga binaan untuk keteram...