Usai Muktamar NU ke-35, Kiai Kampung Minta Jaga Tradisi
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, resmi berakhir pada Senin, 31 Agustus 2026. Di tengah penetapan kepemimpinan baru, seorang kiai kampung dari Situbondo menekankan pentingnya menjaga tradisi keagamaan NU yang hidup di akar rumput.
Pesan kiai kampung: NU hidup di masyarakat
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang biasa dipanggil Gus Lilur, menulis refleksi seusai muktamar. Ia menggunakan pengalamannya untuk mengingatkan bahwa NU bukan sekadar struktur organisasi atau kantor pusat.
"Sebab NU itu bukan kantor, NU itu cara beragama,"
Khalilur menegaskan kehidupan NU justru ditemukan di ruang-ruang sederhana seperti langgar, majelis tahlil, dan pengajian selepas Magrib. Menurutnya, peran para kiai kampung yang melayani jamaah di tingkat akar rumput adalah penopang utama kehidupan ber-NU sehari-hari.
"Ia hidup di langgar-langgar, di majelis tahlil, di pengajian selepas maghrib. Di khidmah para kiai kampung yang tidak pernah masuk daftar hadir muktamar mana pun,"
Penetapan pimpinan PBNU dan Rais Aam
Pada penutupan muktamar, forum sembilan anggota kiai sepuh mengambil keputusan penetapan pimpinan lewat musyawarah mufakat. KH Miftachul Akhyar ditetapkan sebagai Rais Aam, sementara Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) resmi menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Hasil penjaringan awal menunjukkan perolehan suara sebagai berikut:
- Gus Kikin: 472 suara
- Zulfa Mustofa: 262 suara
- Abdussalam Sochib: 261 suara
Keputusan akhir pembacaan penetapan pimpinan dibacakan oleh anggota Ahlul Halli Wal Aqdi, Anwar Iskandar, dalam sidang pleno di area pondok pesantren.
Harapan dan pesan penutup
Khalilur menyampaikan ucapan selamat kepada pemimpin baru dan berharap amanah itu membawa kemaslahatan bagi umat. Ia juga mengingatkan bahwa pergantian pengurus di kantor pusat tidak boleh menghapus atau menggantikan cara beragama yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
"Selamat kepada KH Miftachul Akhyar dan kepada Gus Kikin. Semoga amanah itu membawa maslahat bagi umat,"
Dalam penutup catatannya, Khalilur merangkum semangat yang ingin dijaga dengan kalimat singkat: "Ber-NU tanpa ber-PBNU." Ia menekankan, "Kantor boleh berganti penghuni. Cara beragama tidak boleh berganti pemilik."
Refleksi ini menegaskan bahwa selain dinamika kepengurusan di tingkat pusat, kehidupan NU akan terus bergantung pada praktik keagamaan dan khidmah para kiai di tingkat akar rumput.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...