Ekonomi

IHSG Berisiko Melemah Jelang Akhir Pekan, Investor Tunggu Data Ekonomi

Bagikan:
Grafik IHSG menunjukkan potensi pelemahan pasar dan indikator ekonomi yang dinanti investor

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko melemah menjelang akhir pekan karena investor menahan transaksi menunggu serangkaian data ekonomi domestik dan global. Perkembangan cadangan devisa, rilis data tenaga kerja AS, dan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar.

Proyeksi pergerakan IHSG

Tim Analis Phintraco Sekuritas memprakirakan IHSG bergerak sideways pada rentang 6.300-6.400 pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Pada penutupan Kamis, IHSG tercatat melemah ke level 6.343,71, turun 0,12 persen.

"Hari ini IHSG diprediksi akan bergerak sideways (stagnan) pada kisaran 6.300-6.400,"

Aksi jual investor asing

Pelemahan kemarin disertai aksi jual investor asing dengan nilai bersih net sell Rp217,24 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing antara lain:

  • BBCA
  • EMAS
  • TLKM
  • ANTM
  • BRMS

Cadangan devisa dan tekanan rupiah

Investor menantikan data cadangan devisa Juli yang akan dirilis Bank Indonesia. Menurut Phintraco, cadangan devisa pada Juni mengalami kenaikan tipis menjadi USD145,6 miliar dari USD144,9 miliar pada Mei 2026.

"Cadangan devisa pada bulan Juni sedikit naik menjadi USD145,6 miliar dari USD144,9 miliar pada Mei 2026,"

Catatan Phintraco menyebutkan cadangan devisa pada Mei merupakan level terendah hampir dua tahun terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang berkelanjutan.

Data ekonomi domestik lain yang diperhatikan

Pelaku pasar juga mengamati kinerja sektor properti. Indeks harga properti terpantau meningkat menjadi 0,8% secara tahunan pada triwulan II 2026, naik dari 0,62% pada triwulan I.

"Sementara itu, Pemerintah akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Selasa pekan depan. Target indikatif lelang sebesar Rp10 triliun dari 8 seri SBSN yang akan ditawarkan,"

Sentimen eksternal: NFP AS dan neraca perdagangan Tiongkok

Dari luar negeri, pasar akan mencermati neraca perdagangan Tiongkok dan data tenaga kerja non-pertanian (Non-Farm Payrolls/NFP) AS. NFP Juli 2026 diprakirakan bertambah sekitar 80 ribu pekerjaan, naik dari penambahan 57 ribu pada Juni. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,2%.

"Jika data tenaga kerja AS di bawah estimasi, diperkirakan justru akan direspon positif oleh investor,"

Alasannya, data tenaga kerja yang lemah bisa menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga agresif oleh the Fed, sehingga mendukung aset berisiko.

Implikasi dan prospek

Secara keseluruhan, kombinasi data domestik dan eksternal membuat pasar berhati-hati. Pergerakan IHSG berpotensi terbatas dan rawan koreksi ringan sampai sinyal ekonomi yang dinantikan keluar. Investor disarankan memantau rilis cadangan devisa BI, data NFP AS, serta hasil lelang SBSN untuk menentukan arah pasar pekan depan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait