Ekonomi

IHSG Ditutup 6.036,89 pada 2 Okt 2026, Mayoritas Saham Melemah

Bagikan:

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.036,89 pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, turun 27,39 poin (0,46%) dibandingkan hari sebelumnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pergerakan pasar fluktuatif sepanjang sesi, didorong oleh sentimen global dan data ekonomi domestik.

Pergerakan pasar dan data perdagangan

IHSG sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.053,24 setelah dibuka pada 6.018,08. Namun mayoritas saham justru berakhir turun pada penutupan perdagangan.

  • Saham melemah: 337 saham
  • Saham menguat: 319 saham
  • Saham stagnan: 134 saham

Aktivitas perdagangan tercatat signifikan, dengan nilai transaksi mencapai Rp11,79 triliun, volume 121,14 miliar lembar, dan frekuensi lebih dari 1,62 juta kali transaksi.

Sektor yang bergerak

Mayoritas indeks sektoral memperlihatkan penguatan, antara lain bahan baku, transportasi, energi, infrastruktur, properti, industri, serta konsumer siklikal dan non-siklikal. Sebaliknya, sektor keuangan, teknologi, dan kesehatan mengalami pelemahan.

Sentimen eksternal: manufaktur AS dan ketegangan geopolitik

Data manufaktur Amerika Serikat tetap menunjukkan ekspansi untuk bulan kesembilan berturut-turut. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur September tercatat di 54,5, sedikit turun dari 54,6. Tekanan biaya kembali meningkat dengan indeks Prices naik menjadi 77,9 dari 71,1.

Permintaan justru menguat; indeks pesanan baru naik menjadi 55,3.

“Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas permintaan masih bertahan meski tekanan biaya produksi meningkat,” kata tim Pilarmas dalam risetnya.

Selain itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Laporan menyebut Pentagon menyiapkan tambahan kapal induk dan sekitar 10.000 personel ke kawasan Timur Tengah, yang mendorong kekhawatiran risiko pasokan energi.

Harga minyak merespons sentimen ini; Brent ditutup naik 4,37% ke 102,31 dolar AS per barel.

Sentimen domestik: inflasi dan neraca perdagangan

Inflasi Indonesia pada September tercatat 3,28% secara tahunan, dengan inflasi bulanan 0,30% dan inflasi inti 2,84%. Bank Indonesia menilai inflasi September masih berada dalam sasaran 2,5% +/-1% dan memperkirakan inflasi tetap terkendali pada 2026-2027.

Surplus neraca perdagangan menjadi sinyal positif yang diperhatikan pelaku pasar. Analis Pilarmas menilai surplus yang membaik dapat menopang sektor eksternal dan stabilitas rupiah, meski surplus kumulatif Januari–Agustus masih lebih rendah dibandingkan periode tahun sebelumnya dan impor yang meningkat menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap kuat.

Proyeksi IHSG

Di tengah rangkaian sentimen tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan terbatas pada sesi berikutnya.

“Kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 5.935–6.120,” ujar tim Pilarmas.

Investor akan terus mencermati perkembangan geopolitik, harga energi, dan data ekonomi domestik sebagai penentu arah pasar jangka pendek.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait