Akhir Pekan: Rupiah Menguat ke Rp17.882 di Tengah Kekhawatiran Global
Rupiah kembali menguat pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat, 2 Oktober 2026, menutup di Rp17.882 per dolar AS atau naik 0,47 persen (84 poin). Penguatan ini dipengaruhi oleh sentimen geopolitik, ekspektasi suku bunga global, dan kebijakan moneter domestik.
Sentimen global dorong pergerakan
Pelaku pasar menaruh perhatian pada eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi menimbulkan risiko inflasi global. Ada laporan tentang penambahan pasukan AS ke wilayah tersebut, sehingga kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan energi meningkat.
Kekhawatiran itu berbarengan dengan sikap beragam dari pejabat the Fed, yang turut membentuk ekspektasi pasar terhadap langkah suku bunga ke depan.
Reaksi pasar terhadap pernyataan pejabat The Fed
Beberapa pejabat The Fed mengirim sinyal berbeda mengenai arah kebijakan moneter. Menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, perbedaan ini membuat pasar berhati-hati dalam membaca prospek suku bunga.
"Di sisi lain, Presiden the Fed Minneapolis, Neel Kashkari, tetap bersikap hawkish (ketat). Ia masih menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut,"
Ibrahim juga mencatat ekspektasi pasar terhadap data ketenagakerjaan AS yang akan rilis, yang berpengaruh pada probabilitas kenaikan suku bunga.
"Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS telah menambah hampir 90.000 lapangan kerja turun dari 162.000 pada bulan Agustus,"
"Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen. Persentasenya turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya,"
Langkah Bank Indonesia dan implikasinya
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memperluas jenis surat berharga yang dapat dijadikan underlying dalam operasi moneter. Langkah itu memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai instrumen yang sah untuk operasi moneter.
Perluasan ini bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih pro-market. Tujuannya untuk mengelola likuiditas, menstabilkan suku bunga dan nilai tukar, serta mendorong likuiditas dan aktivitas di pasar keuangan domestik.
Prospek jangka pendek
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan kebijakan domestik. Data tenaga kerja dan inflasi AS yang dirilis pekan ini berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga global, sementara kebijakan BI akan menjadi penopang stabilitas pasar domestik.
Investor disarankan memantau rilis data ekonomi dan perkembangan geopolitik secara intensif karena keduanya dapat memicu volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...