IHSG Turun 0,32% ke 5.990 pada Jeda Perdagangan 2 Okt
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada sesi I, Jumat, 2 Oktober 2026, turun 19,30 poin atau 0,32% ke level 5.990,20. Pergerakan mencerminkan tekanan jual yang masih dominan meski sesi dibuka menguat.
Pergerakan pasar dan data perdagangan
IHSG sempat membuka pada level 6.018,08 setelah penguatan awal. Namun tekanan jual membalikkan arah sehingga indeks berakhir lebih rendah pada jeda perdagangan.
Berdasarkan data Bursa, level tertinggi sesi tercatat 6.044,26 dan terendah 5.979,98. Total volume perdagangan mencapai 80,44 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp6,39 triliun.
Dalam pergerakan saham, sebanyak 230 saham menguat, 404 saham melemah, dan 151 saham stagnan. Ini menunjukkan sentimen negatif lebih kuat hingga jeda sesi I.
Sektor yang bergerak
Mayoritas indeks sektoral justru mencatat penguatan. Sektor yang menguat meliputi:
- Bahan baku
- Transportasi
- Energi
- Infrastruktur
- Properti
- Industri
- Konsumer non-siklikal dan siklikal
Sementara itu, sektor keuangan, teknologi, dan kesehatan berada di zona pelemahan.
Sentimen global yang mempengaruhi
Dari luar negeri, aktivitas manufaktur AS masih dalam fase ekspansi untuk bulan kesembilan berturut-turut. Manufacturing PMI September tercatat di 54,5, sedikit turun dari 54,6 pada Agustus.
Tekanan biaya produksi juga meningkat. Indeks Prices naik menjadi 77,9 dari 71,1 pada bulan sebelumnya, sedangkan indeks pesanan baru menguat ke 55,3.
"Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas permintaan masih bertahan meski tekanan biaya produksi meningkat,"
Selain itu, ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah laporan penempatan tambahan kapal induk dan sekitar 10.000 personel ke kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran gangguan pasokan mendorong harga minyak; Brent naik 4,37% menjadi US$102,31 per barel.
Sentimen domestik dan proyeksi
Di dalam negeri, inflasi September tercatat 3,28% secara tahunan dengan inflasi bulanan 0,30% dan inflasi inti 2,84%. Bank Indonesia menilai inflasi masih berada dalam sasaran 2,5% plus minus satu persen dan memperkirakan tetap terkendali untuk 2026–2027.
Berdasarkan kombinasi sentimen global dan domestik, Tim Pilarmas memperkirakan potensi pelemahan terbatas pada IHSG.
"Kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 5.935–6.120,"
Pergerakan sesi II nanti akan bergantung pada lanjutan sentimen global, perkembangan harga minyak, dan data ekonomi domestik. Investor disarankan memantau level support-resistance yang disebutkan untuk mengelola risiko.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...
IHSG Diprakirakan Konsolidasi Menjelang Data Inflasi 1 Okt 2026
Pelaku pasar menunggu data inflasi BPS (1 Okt 2026); IHSG diperkirakan konsolidasi di kisaran 6.000-6.200 se...
Rupiah Menguat ke Rp17.894 Didukung Komitmen BI dan Harapan AS-Iran
Rupiah ditutup menguat 0,48% ke Rp17.894 per dolar AS, didorong pernyataan BI soal instrumen stabilisasi dan...
Nilai Tukar Rupiah Menguat, Tinggalkan Level Rp18.000
Rupiah menguat 0,35% ke Rp17.918 per USD setelah sempat menyentuh Rp18.000; penguatan didukung turunnya harg...