IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14% ke level 6.018,08 pada Jumat, 2 Oktober 2026. Penguatan awal menutup pelemahan sebelumnya yang menurunkan IHSG ke 6.009,50 pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Pembukaan dan Pergerakan Sektoral
Pembukaan pasar hari ini didorong oleh penguatan mayoritas sektor saham. Sektor bahan baku, transportasi, energi, infrastruktur, properti, industri, konsumer non-siklikal, dan konsumer siklikal bergerak positif. Di sisi lain, sektor keuangan, teknologi, dan kesehatan tercatat melemah.
Sentimen Eksternal: PMI AS dan Ketegangan Geopolitik
Data Manufacturing PMI Amerika Serikat untuk September menunjukkan aktivitas manufaktur masih pada fase ekspansi, di angka 54,5 (turun tipis dari 54,6). Tekanan harga bahan baku ikut meningkat: indeks Prices naik menjadi 77,9 dari 71,1 pada bulan sebelumnya. Hal ini tercatat bersamaan dengan penguatan permintaan manufaktur, terlihat dari indeks pesanan baru yang naik menjadi 55,3.
"Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas permintaan masih bertahan meski tekanan biaya produksi meningkat," kata tim Pilarmas dalam risetnya.
Di samping data ekonomi, pasar global mencermati eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan menyebut Pentagon menyiapkan tambahan kapal induk dan sekitar 10.000 personel ke kawasan Timur Tengah, yang mendorong kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Reaksi pasar tercermin pada harga minyak mentah; Brent ditutup naik sekitar 4,37% menjadi 102,31 dolar AS per barel.
Sentimen Domestik: Inflasi dan Neraca Perdagangan
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan September sebesar 3,28%, inflasi bulanan 0,30%, dan inflasi inti 2,84%. Bank Indonesia menilai inflasi tersebut masih berada dalam sasaran 2,5% +/- 1% dan memperkirakan inflasi tetap terkendali pada 2026–2027.
Surplus neraca perdagangan juga menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Analis Pilarmas menilai perbaikan surplus dapat menopang sektor eksternal dan stabilitas rupiah, meski kinerja kumulatif Januari–Agustus masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan impor mencerminkan aktivitas ekonomi dan kebutuhan bahan baku yang tetap kuat.
Prospek IHSG
"Kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 5.935–6.120," kata tim Pilarmas dalam risetnya.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati pergerakan rupiah, harga minyak, serta perkembangan konflik AS-Iran. Selain itu, data ketenagakerjaan AS yang dirilis akhir pekan ini berpotensi memberi dampak pada sentimen global dan volatilitas indeks.
Secara keseluruhan, meski pembukaan di zona hijau mencerminkan sentimen positif awal, risiko eksternal dan tekanan harga bahan baku bisa membatasi penguatan IHSG dalam sesi mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ceria Corp Dapat Piagam di Gotong Royong Bedah Rumah Sultra
Ceria Corp menerima piagam sebagai donatur dalam Program Gotong Royong Bedah Rumah di Kelurahan Mokau pada 3...
Surplus Perdagangan Agustus 2026 Capai USD3,55 Miliar
Neraca perdagangan Agustus 2026 surplus USD3,55 miliar, didorong ekspor USD26,61 miliar dan kinerja nonmigas...
Indeks Kepercayaan Industri September 2026 Tetap Ekspansi 51,93
IKI September 2026 tercatat 51,93, masih ekspansi meski turun; peningkatan pesanan disertai penurunan produk...
HIPMI Usulkan Plafon KUR Naik Jadi Rp2 Miliar
HIPMI usulkan plafon KUR naik dari Rp500 juta menjadi Rp2 miliar untuk pengusaha muda UMKM yang siap naik ke...
Tangsel Catat 144.151 UMKM, Didominasi Sektor Kuliner
Tangsel mencatat 144.151 UMKM sepanjang 2026, dominasi kuliner 142.497 unit; sekitar 105.000 telah memiliki...
Astra Latih 50 UMKM Kelola Media Digital dan Buat Konten
Astra melatih 50 UMKM binaan pada 30 September 2026 untuk mengelola media digital dan membuat konten produk...