IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia diperkirakan lesu, Jumat, 2 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melemah dan menguji level krusial 6.000, seiring aksi jual investor asing serta data inflasi September yang meningkat.
IHSG Tertahan di Level Kritis
Pada penutupan Kamis, IHSG turun 1,02 persen ke posisi 6.009. Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp240,43 miliar, menekan pasar.
Saham-saham yang paling banyak dijual asing antara lain BMRI, GOTO, BBRI, MDKA, dan BBCA. Analis dari Phintraco Sekuritas memperkirakan level psikologis 6.000 akan kembali diuji hari ini.
"Hari ini IHSG diperkirakan akan uji level psikologis kembali di level 6.000,"
Jika indeks ditutup di bawah level tersebut, pasar berpotensi menguji rentang 5.800–5.900 sebagai support berikutnya.
Data Inflasi Jadi Fokus Pasar
Pasar saat ini mencermati rilis inflasi Badan Pusat Statistik untuk September. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,28%, naik dari 3,19% di Agustus. Secara bulanan inflasi mencapai 0,30%, sementara inflasi inti tahunan sebesar 2,84%.
Kenaikan inflasi terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,37%.
"Meskipun inflasi headline meningkat, inflasi inti masih relatif terkendali,"
Tim analis menilai tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat, sehingga angka inflasi ini kemungkinan belum mendorong Bank Indonesia untuk mengetatkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
"Namun, kenaikan harga pangan perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan. Dampak inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya daya beli konsumen,"
Neraca Perdagangan dan Risiko ke Depan
Selain inflasi, pelaku pasar juga mengamati data perdagangan luar negeri. Neraca perdagangan Agustus 2026 menunjukkan surplus sebesar USD3,55 miliar, meningkat tajam dari surplus Juli yang hanya USD120 juta.
Surplus Agustus ditopang ekspor sebesar USD26,61 miliar (naik 6,72% YoY), sementara impor mencapai USD23,06 miliar (naik 19,09% YoY). Lonjakan impor terutama berasal dari kebutuhan bahan baku dan barang modal, sedangkan surplus didorong sektor nonmigas, termasuk produk logam dan komoditas hilirisasi.
Tim Phintraco mengingatkan bahwa pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat dibanding ekspor dapat mempersempit surplus jika permintaan global atau harga komoditas melemah.
Dengan kombinasi tekanan dari aksi jual asing, kenaikan inflasi, dan dinamika perdagangan luar negeri, pasar kemungkinan akan tetap berhati-hati dan memantau angka-angka makro berikutnya untuk menentukan arah IHSG dalam beberapa sesi ke depan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...