IHSG Melemah 0,38% ke 6.436,85 Saat Pasar Menanti Keputusan The Fed
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 24,30 poin atau 0,38 persen ke posisi 6.436,85 pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. Pelemahan terjadi seiring pelaku pasar menanti hasil pertemuan bank sentral AS, The Fed, serta sorotan terhadap kebijakan pasar modal domestik.
Ringkasan Penutupan
IHSG sempat bergerak fluktuatif pada sesi perdagangan. Indeks membuka di zona merah, lalu berbalik menguat hingga penutupan sesi pertama, namun kembali turun di sesi kedua dan akhirnya ditutup melemah.
Statistik Perdagangan
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan 1,84 juta kali transaksi. Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 23,77 miliar lembar dengan nilai transaksi sekitar Rp12,24 triliun.
Secara keseluruhan tercatat 213 saham menguat, 456 saham melemah, dan 293 saham tidak bergerak.
Saham Penguat dan Pelemah Teratas
Beberapa saham mencatat penguatan signifikan, sementara yang lain mengalami tekanan jual. Berikut daftar saham yang menonjol pada penutupan:
- Saham penguat terbanyak: MGNA, UANG, VISI, VAST, YULE
- Saham pelemah terbanyak: INTD, SAPX, DEFI, BKDP, FILM
Sentimen Pasar dan Faktor Eksternal
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai pergerakan IHSG bersifat fluktuatif karena investor mencermati kebijakan moneter global.
“IHSG bergerak mixed menantikan kebijakan moneter The Fed,”
Ratna menambahkan bahwa bursa kawasan Asia bergerak variatif dengan kecenderungan menguat, sejalan koreksi harga minyak mentah global setelah persediaan minyak mentah AS dilaporkan naik di luar perkiraan.
Saat ini imbal hasil obligasi global cenderung stabil menjelang keputusan The Fed. Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 92 persen, menurut pasar.
Kebijakan Pasar Modal Domestik yang Dipantau
Di dalam negeri, pelaku pasar juga memantau dua kebijakan utama pasar modal yang akan bergulir akhir bulan:
- Batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai akan berubah dari Rp50 menjadi Rp1 per saham efektif 28 September 2026.
- Transaksi short selling dijadwalkan efektif berlaku pada Oktober 2026. Daftar efek yang dapat digunakan dalam transaksi ini akan dirilis pada 28 September 2026.
Perubahan aturan ini menjadi perhatian investor karena berpotensi meningkatkan likuiditas serta mengubah dinamika perdagangan saham berkapitalisasi kecil.
Ke depan, pasar diperkirakan akan tetap sensitif terhadap hasil pertemuan The Fed dan implementasi aturan baru di pasar modal domestik. Pergerakan IHSG dalam beberapa hari mendatang kemungkinan masih dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan moneter global dan adaptasi pelaku pasar terhadap aturan lokal.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...