Mendag Usul DMO Diterapkan Selektif sesuai Karakteristik Komoditas
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengusulkan agar Domestic Market Obligation (DMO) tidak diberlakukan secara otomatis untuk semua komoditas. Usulan disampaikan dalam rapat kerja dengan Badan Legislasi DPR RI di Jakarta, Selasa, 15 September 2026, terkait penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Komoditas Strategis. Budi menilai penerapan DMO harus mempertimbangkan karakteristik komoditas, risiko pasokan, dan kepentingan nasional.
Usulan DMO selektif dan tujuan RUU
Budi meminta RUU Komoditas Strategis dirumuskan proporsional dan fleksibel. Aturan itu dimaksudkan menjaga ketersediaan pasokan domestik, stabilitas harga, dan memberi ruang bagi perdagangan yang efisien serta berdaya saing.
Kami yakin RUU tentang Komoditas Strategis akan menjadi payung hukum yang kuat dan komprehensif. Mengharmonisasikan regulasi sektoral, serta mengatasi berbagai persoalan dalam pengembangan daya saing komoditas strategis nasional.
Kriteria penerapan DMO
Budi merinci beberapa pertimbangan yang layak menjadi dasar penerapan DMO. Pemerintah perlu menimbang tingkat kepentingan komoditas bagi kebutuhan nasional dan potensi risiko kekurangan pasokan.
- Risiko kekurangan pasokan domestik
- Kenaikan harga domestik yang signifikan
- Gangguan rantai pasok
- Dampak peningkatan ekspor terhadap ketersediaan domestik
- Kebutuhan bahan baku industri dan stabilitas harga
DMO dapat diberlakukan apabila terdapat risiko kekurangan pasokan, kenaikan harga domestik yang signifikan, gangguan rantai pasok, atau kondisi ketika peningkatan ekspor berpotensi mengganggu pemenuhan kebutuhan nasional.
Contoh komoditas dan instrumen perdagangan
Pemerintah saat ini sudah menerapkan skema DMO pada beberapa komoditas. Skema itu diberlakukan untuk menjaga pasokan dan stabilitas domestik.
- Batu bara
- Minyak bumi dan gas bumi
- Minyak kelapa sawit dan produk turunannya terkait pemenuhan minyak goreng rakyat
Budi juga menekankan pentingnya fleksibilitas instrumen perdagangan. RUU harus memberi ruang bagi Kemendag untuk merespons dinamika pasar, termasuk kuota ekspor, DMO, dan larangan sementara.
RUU perlu memberi fleksibilitas instrumen untuk memberikan ruang bagi Kemendag dalam merespons dinamika pasar global seperti kuota ekspor, DMO, dan larangan sementara.
Kewenangan tata niaga dan ekspor satu pintu
Budi mengusulkan kewenangan penetapan tata niaga komoditas strategis tetap berada di tangan Menteri Perdagangan. Penetapan daftar komoditas akan dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait agar kebijakan responsif dan terkoordinasi.
Terkait mekanisme ekspor satu pintu melalui BUMN, Budi menyatakan penerapannya harus berdasarkan kajian mendalam dan tidak otomatis diberlakukan untuk semua komoditas strategis.
Kebijakan ekspor satu pintu telah memiliki pijakan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis. Penetapan komoditas SDA strategis dilakukan secara bertahap, dengan tahap awal mencakup batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy atau paduan besi.
Kemendag juga membuka ruang bagi pelaku usaha swasta mengekspor komoditas di luar skema ekspor satu pintu, asalkan memenuhi persyaratan perizinan, standar, dan ketentuan ekspor yang berlaku.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...