IHSG Diprakirakan Masih Lesu, Bakal Uji Level 6.350-6.400
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia diperkirakan tetap lesu pada Rabu, 16 September 2026. Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level 6.350-6.400.
Proyeksi IHSG dan kondisi pasar
Pada penutupan Selasa, IHSG melemah 1,13 persen ke posisi 6.461. Volume dan sentimen pasar masih rendah karena minimnya katalis positif.
"IHSG akan menguji level 6.350-6.400,"
Pergerakan indeks dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal yang membuat investor bersikap wait and see.
Aliran modal: net sell asing dan saham terlaris dijual
Hingga Selasa, pasar mencatat aksi jual bersih (net sell) asing sebesar Rp354,16 miliar. Saham-saham yang paling banyak dijual investor asing antara lain:
- BMRI
- BBRI
- BBNI
- CPIN
- ASII
Tekanan jual ini menambah beban pada sentimen IHSG karena aliran modal keluar memperkecil peluang rebound jangka pendek.
Faktor eksternal: minyak menguat dan ekspektasi the Fed
Harga minyak mentah yang terus naik menjadi salah satu pemicu kehati-hatian investor. Pada Selasa, WTI ditutup menguat 4,4 persen di level sekitar USD105 per barel, sementara Brent berada di atas USD108 per barel.
"Kedua hal tersebut menjadi faktor negatif yang memengaruhi pergerakan IHSG,"
Peningkatan harga minyak disebabkan laporan pembatalan sejumlah pengiriman Arab Saudi terkait penutupan jalur pipa ekspor utama. Di sisi lain, pasar menantikan hasil rapat bank sentral AS untuk konfirmasi kemungkinan kenaikan suku bunga.
Risiko perbankan menurut S&P Global Ratings
Tim Analis Phintraco juga mencatat peringatan dari lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings. Lembaga itu memperingatkan peningkatan risiko kredit pada bank-bank BUMN di Indonesia.
"Meningkatnya risiko kredit disebabkan penyaluran pinjaman yang diarahkan pemerintah bertumbuh dua kali lebih cepat dari rata-rata industri. Hal itu berpotensi menaikkan rasio kredit bermasalah (NPL) serta menekan profitabilitas sektor perbankan negara,"
Peningkatan eksposur kredit bank BUMN berpotensi menambah tekanan pada sektor perbankan jika kualitas aset menurun.
Rupiah dan prospek jangka pendek
Rupiah ditutup melemah 0,14 persen di pasar spot pada level Rp17.694 per dolar AS. Mayoritas mata uang Asia juga melemah di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.
Dengan kombinasi tekanan harga minyak, aliran modal keluar, dan risiko kredit perbankan, pasar kemungkinan masih mencari pemicu baru sebelum bergerak signifikan. Investor diperkirakan akan terus mencermati hasil rapat the Fed dan data penjualan eceran AS untuk arah pasar selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Hilirisasi Nikel Ubah Wajah Ekonomi Morowali
Hilirisasi nikel menggeser ekonomi Morowali dari sektor primer ke industri; HPAL dan baterai dorong nilai ta...
Intraco Penta Perkuat Hubungan Pelanggan lewat Customer Golf Day 2026
Intraco Penta dan Techking gelar Customer Golf Day 2026 untuk apresiasi pelanggan; INTA juga catat perbaikan...
Hilirisasi Nikel Indonesia Cerah di Tengah Lonjakan EV dan BESS
Hilirisasi nikel Indonesia berpeluang besar didorong pertumbuhan EV dan BESS, membuka ruang nilai tambah dar...
Indodana Finance Raih Dua Penghargaan TOP GRC Awards 2026
Indodana Finance meraih dua penghargaan TOP GRC Awards 2026, termasuk The Most Committed GRC Leader untuk Iw...
Purbaya Bicara Usai Dicopot: Telpon Saat Rapat dan Pilih Pensiun
Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan ia diberitahu lewat telepon saat rapat DPD pada 14 Sept 2026, mengakui sebag...
IHSG Turun 1,13% ke 6.461,15 Saat Pasar Antisipasi Menkeu Baru
IHSG turun 1,13% ke 6.461,15 pada 15 September 2026; pasar mencermati pelantikan Menkeu baru dan sentimen gl...