Hilirisasi Nikel Indonesia Cerah di Tengah Lonjakan EV dan BESS
Indonesia memiliki peluang besar memperkuat hilirisasi nikel seiring naiknya permintaan kendaraan listrik (EV) dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS). Peluang ini tercermin dari proyeksi penguasaan pasar material baterai dunia yang membuka kemungkinan nilai tambah industri dalam negeri.
Proyeksi pasar dan peluang hilirisasi
Shanghai Metal Market memperkirakan Indonesia berpeluang menguasai hingga 20% pasar precursor cathode active material (pCAM) pada 2030. Proyeksi lainnya menunjukkan 15% untuk cathode active material (CAM) dan 10% untuk baterai litium-ion. Angka ini menandai potensi pergeseran peran Indonesia dari pemasok bahan mentah menjadi produsen material bernilai tambah.
Tantangan menciptakan nilai tambah di dalam negeri
Pejabat Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menekankan cadangan nikel yang besar harus diikuti kemampuan membangun rantai industri lokal. Posisi dalam rantai pasok global menurutnya bergantung pada kemampuan mengolah mineral hingga manufaktur dan daur ulang.
Memiliki sumber daya alam yang melimpah memang memberikan Indonesia tiket masuk ke industri baterai global. Tetapi tiket masuk tidak selalu berarti kita mendapatkan kursi di barisan depan.
Pendorong permintaan: EV dan BESS
Pertumbuhan EV bukan satu-satunya pendorong. Pengembangan PLTS skala besar juga membutuhkan BESS untuk kestabilan jaringan. Pemerintah telah memulai tahap awal pengembangan PLTS sebesar 5,3 GWp, yang secara langsung meningkatkan kebutuhan baterai.
Tadi 5,3 GW yang sudah diluncurkan Menteri ESDM itu dan dengan Presiden, itu perlu baterai. Sangat perlu baterai.
Pandangan industri dan tekanan jangka pendek
Pemimpin perusahaan tambang menilai prospek permintaan nikel positif jangka menengah hingga panjang. Namun, industri menghadapi tekanan pasokan dan volatilitas harga dalam jangka pendek akibat lonjakan produksi global.
Kalau kita melihat prospek jangka menengah kemudian jangka panjangnya, nikel itu tetap positif. Meskipun kalau kita lihat jangka pendeknya, industri nikel masih akan menghadapi tekanan dari pertumbuhan supply yang sangat besar, terutama dari Indonesia, dan juga volatilitas harga.
Contoh ekosistem dan investasi
Salah satu inisiatif terintegrasi datang dari grup MIND ID yang menggabungkan pengolahan dan manufaktur melalui beberapa entitas. Jaringan ini menghubungkan pengolahan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara, dengan fasilitas manufaktur di Karawang, Jawa Barat.
- Komponen ekosistem melibatkan PT Aneka Tambang Tbk dan PT Industri Baterai Indonesia (IBI).
- Konsorsium CBL melibatkan PT Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Brunp, dan Lygend.
Investasi yang masuk diperkirakan sekitar US$5,9 miliar. Fasilitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang memulai kapasitas awal 6,9 GWh per tahun, dengan target total 15 GWh pada 2028. Fasilitas ini memproduksi sel baterai dan battery pack untuk EV dan BESS.
Implikasi ke depan
Dengan dukungan investasi dan integrasi rantai pasok, pertumbuhan EV dan BESS membuka ruang perluasan hilirisasi nikel di dalam negeri. Kunci keberlanjutan adalah kemampuan menciptakan nilai tambah dari pengolahan hingga manufaktur dan daur ulang.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...