Pelatih 25 Tahun Rindu Jadi Pemain di DBL West Java-East
Azka Fauziansah Kurniawan, 25 tahun, kini berdiri di sisi lapangan sebagai pelatih SMA Laboratorium UPI Bandung pada ajang DBL West Java-East 2026. Meski sudah dua musim merasakan atmosfer kompetisi dari pinggir lapangan, ia mengaku menyesal tidak pernah merasakan pengalaman sebagai pemain saat masa SMA.
Pelatih muda yang cepat menanjak
Musim 2026 menandai tahun kedua Azka menjadi pelatih di ajang DBL West Java-East. Debutnya terjadi pada 2023 saat memimpin tim putra SMAN 4 Bandung. Pengalaman dua musim itu membuatnya kian paham dinamika pertandingan dan pengelolaan pemain muda.
Namun di balik kematangan kepelatihan, ada kerinduan pribadi yang tetap menghantui. Ia sering membayangkan kalau masa lalu bisa diulang, ia ingin merasakan atmosfer sebagai pemain.
"Kalau waktu bisa diulang sih, saya juga ingin ngerasain jadi student athlete di DBL,"
Awal kenal basket dan jalur kepelatihan
Azka tidak tumbuh sebagai pesepak bola atau pebasket di bangku SMA. Sekolahnya tidak mengikuti DBL, dan partisipasi ekstrakurikuler basket di sekolah itu sangat sedikit. Selain itu, latar pendidikan sekolahnya yang berfokus pada farmasi membuat akses ke program olahraga kompetitif terbatas.
"SMA saya dulu nggak pernah ikut DBL. Ada ekstrakurikuler basket cuman yang ikut sedikit. Karena kan sekolah saya dulu farmasi kan. Saya baru kenal basket waktu kuliah,"
Dari perkenalan di perguruan tinggi inilah ketertarikan Azka terhadap basket tumbuh. Perubahan itu membawa dia memilih jalan kepelatihan sebagai profesi dan pengabdian terhadap perkembangan atlet muda.
Rindu pengalaman sebagai pemain
Meski berperan penting sebagai pelatih, Azka menyadari ada nuansa yang hanya bisa dirasakan oleh pemain. Menjadi pelatih memberinya perspektif tak ternilai, namun ia tetap menganggap peran pemain membawa sensasi tersendiri di lapangan.
"Wah, kalau bisa diulang saya sih ingin mengulang masa SMA cuman buat main di DBL. Karena menurut saya main di DBL dan jadi pelatih di DBL itu berbeda. Semua punya feel yang berbeda dan feel jadi pemain nggak akan pernah saya dapatkan,"
Dampak pada pendekatan kepelatihan dan prospek tim
Kerinduan itu justru berdampak positif pada gaya latihnya. Azka kerap mengamati bagaimana para pemain membagi waktu antara latihan dan akademik. Pengalaman melihat itu membuatnya lebih peka terhadap kebutuhan pemain sebagai student-athlete.
Saat ini, ia terus membina tim SMA Laboratorium UPI Bandung dengan kombinasi disiplin dan pemahaman konteks akademis. Melihat para pemain tumbuh memberi Azka semacam pengganti pengalaman yang ia lewatkan di masa remaja.
Ke depan, Azka berpeluang menjadi salah satu wajah kepelatihan muda yang berpengaruh di ekosistem DBL. Pengalamannya menegaskan bahwa jalur ke olahraga kompetitif tidak selalu linier, dan peran pelatih dapat menutup celah pengalaman yang belum sempat dijalani.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
Panama Lolos Perempat Final Copa America 2024 usai Tumbangkan Bolivia
Panama melaju ke perempat final Copa America 2024 usai menaklukkan Bolivia 3-1; gol Fajardo, Guerrero, dan Y...
Uruguay Hentikan AS 1-0 dan Melaju ke Perempat Final Copa America
Uruguay menang 1-0 atas AS di Arrowhead dan melaju ke babak delapan besar Copa America lewat gol Mathias Oli...
Goran Paulic Resmi Tinggalkan Persib
Goran Paulic, asisten pelatih asal Kroasia, mengakhiri kerja sama dengan Persib pada 2 Juli 2024 menjelang L...
Kapolresta Bandung Cup: Puluhan Tim U-16 Berlaga di Jalak Harupat
Puluhan tim U-16 bersaing di Kapolresta Bandung Cup (2-5 Juli 2024) di Sor Si Jalak Harupat sebagai wadah pe...
Arsan Makarin Resmi Tinggalkan PERSIB Jelang Liga 1 2024/2025
PERSIB dan Arsan Makarin sepakat berpisah setelah dua musim; Arsan tampil 13 kali saat PERSIB jadi juara dan...
Atlet China Zhang Zhi Jie Meninggal saat Bertanding di AJC 2024
Atlet China Zhang Zhi Jie meninggal saat bertanding di BNI Badminton Asia Junior Championship 2024 di Yogyak...