Rupiah Dibuka Melemah Jelang FOMC, Tekanan dari Dolar dan Minyak
Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh penguatan dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, 16 September 2026. Rupiah turun 0,06 persen atau 11 poin menjadi Rp17.705 per dolar AS karena kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia.
Pembukaan pasar dan sentimen
Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah melemah ke posisi Rp17.694 per dolar AS. Sentimen negatif pelaku pasar diperkirakan mendorong pelemahan lanjutan hari ini.
Faktor pemicu pelemahan
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan beberapa pemicu pelemahan rupiah pada hari ini, terutama tekanan dari pasar uang global.
"Rupiah diprakirakan melemah terhadap dolar AS. Pelemahan dipicu oleh naiknya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia,"
Selain itu, kenaikan harga minyak dan prospek kebijakan moneter AS yang lebih ketat membuat investor cenderung berhati-hati.
Peran pertemuan FOMC
Malam nanti, Federal Open Market Committee (FOMC) akan menggelar pertemuan rutin. Setelah pertemuan, The Fed akan menyampaikan asesmen kondisi ekonomi dan kebijakan suku bunga. Pelaku pasar mengantisipasi sikap hawkish The Fed, yang berpeluang memperkuat dolar AS.
"Investor mengantisipasi sikap hawkish (ketat) the Fed pada pada pertemuan malam ini,"
Harga minyak dan imbal hasil obligasi
Konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia naik, yang turut meningkatkan risiko inflasi global. Data pasar hari ini menunjukkan pergerakan harga minyak sebagai berikut:
| Komoditas | Perkiraan Harga |
|---|---|
| Minyak Brent | ~ USD107,82 per barel |
| Minyak WTI | ~ USD104,84–USD105,83 per barel |
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat hampir 0,12 persen berada di rentang 99,72–99,73.
Tim Mirae Asset Sekuritas juga mencatat kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun, naik dari level 5 persen ke 5,03 persen. Kenaikan ini semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menjaga suku bunga global pada level tinggi.
"Kenaikan imbal hasil obligasi AS semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Sehingga suku bunga global masih akan tinggi,"
Proyeksi pergerakan rupiah
Lukman memprakirakan rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS. Pergerakan akan dipengaruhi hasil pertemuan FOMC, perkembangan harga minyak, dan dinamika imbal hasil obligasi AS.
Secara keseluruhan, rupiah berpotensi terus tertekan sampai ada sinyal jelas dari The Fed atau peredaan risiko geopolitik yang menekan harga minyak.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...