IHSG Dibuka Melemah ke 6.453,91, Minyak dan The Fed Tekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada sesi I perdagangan Rabu, 16 September 2026, berada di level 6.453,91, turun 7,24 poin (0,11%). Pelemahan terjadi di Bursa Efek Indonesia karena minimnya katalis positif dan tekanan dari sisi global.
Skenario pasar dan proyeksi
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji area 6.350-6.400 jika sentimen negatif berlanjut. Pada penutupan hari sebelumnya, indeks tercatat melemah 1,13 persen ke level 6.461.
"IHSG akan menguji level 6.350-6.400," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Aliran modal dan saham yang paling banyak dijual
Perdagangan pada Selasa mencatat aksi jual bersih (net sell) asing sebesar Rp354,16 miliar. Aksi jual ini menekan likuiditas dan sentimen pasar sehingga investor cenderung mengambil posisi tunggu.
Saham-saham yang paling banyak dijual investor asing antara lain:
- BMRI
- BBRI
- BBNI
- CPIN
- ASII
Faktor global: minyak dan ekspektasi suku bunga
Phintraco menilai dua faktor utama menekan IHSG: kenaikan harga minyak mentah dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Keduanya dianggap memperburuk sentimen risiko di pasar saham emerging market, termasuk Indonesia.
"Kedua hal tersebut menjadi faktor negatif yang memengaruhi pergerakan IHSG," ujar Tim Phintraco.
Harga minyak menanjak. Pada Selasa, WTI ditutup menguat 4,4% di kisaran USD105 per barel, sementara Brent berada di atas USD108 per barel. Phintraco menyebut ada gangguan pasokan yang turut mendorong kenaikan harga.
"Arab Saudi dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak karena penutupan jalur pipa ekspor utamanya. Sehingga harga minyak semakin melambung," kata Tim Phintraco.
Dampak pada perbankan dan mata uang
Rupiah juga bergerak melemah, ditutup pada level Rp17.694 per dolar AS pada Selasa. Kondisi ini menambah tekanan pada pasar domestik.
Phintraco juga memperhatikan peringatan dari lembaga pemeringkat internasional mengenai peningkatan risiko pada bank-bank BUMN. Mereka menilai penyaluran kredit yang dipercepat berisiko menaikkan NPL dan menekan profitabilitas.
"Meningkatnya risiko kredit disebabkan penyaluran pinjaman yang diarahkan pemerintah bertumbuh dua kali lebih cepat dari rata-rata industri. Hal itu berpotensi menaikkan rasio kredit bermasalah (NPL) serta menekan profitabilitas sektor perbankan negara," ujar Tim Phintraco.
Pandangan ke depan
Investor saat ini menanti hasil pertemuan the Fed, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,0%. Selain itu, data penjualan eceran AS untuk Agustus menjadi pemantauan berikutnya untuk menentukan arah sentimen pasar global.
Dengan kombinasi tekanan harga minyak, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan arus modal keluar asing, prospek IHSG dalam jangka pendek diperkirakan akan tetap rentan dan bergerak dalam kisaran tertekan sampai ada katalis positif baru.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...