Rupiah Loyo, Ditutup Rp17.696 per Dolar AS
Rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan Rabu (16 September 2026), turun tipis ke posisi Rp17.696 per dolar AS atau turun sekitar 0,01%. Pelemahan terjadi seiring penguatan indeks dolar AS dan kekhawatiran pasar menjelang keputusan the Fed.
Penutupan pasar dan penyebab utama
Menurut data Bloomberg, rupiah berakhir hari ini lebih lemah dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan dolar AS menjadi dorongan utama, seiring investor mengantisipasi sinyal kebijakan moneter dari the Fed.
Risiko pasokan minyak dari Timur Tengah
Pasar juga menyorot gangguan pasokan minyak setelah terjadi penutupan pipa minyak Jalur Timur-Barat oleh perusahaan Saudi. Kondisi ini memicu kekhawatiran yang memperkuat permintaan pada dolar sebagai aset aman.
"Selain itu, pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Kekhawatiran muncul setelah perusahaan Arab Saudi menutup pipa minyak jalur Timur-Barat,"
Serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi masih berlanjut, yang diperkirakan dapat mengganggu sekitar 4-5 persen pasokan minyak global. Ketidakpastian ini menambah tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Kebijakan the Fed dan ekspektasi pasar
Pelaku pasar menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar malam ini waktu AS. Keputusan tersebut akan diumumkan dinihari Kamis waktu Indonesia, dan dapat memengaruhi aliran modal global.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar hampir 92,4%. Jika jadi dilakukan, kenaikan diperkirakan sebesar 25 basis poin.
Dinamika fiskal domestik
Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada kinerja Menteri Keuangan baru, Suahasil Nazara. Analis mencatat ada dua tantangan utama yang harus dijaga untuk kesinambungan fiskal.
- Mendorong fiskal yang pro-pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas anggaran.
- Menjaga disiplin pengeluaran agar ruang fiskal tersedia saat terjadi guncangan ekonomi.
Kredibilitas fiskal dinilai penting bukan hanya karena neraca terlihat sehat, tapi juga agar pemerintah memiliki ruang gerak saat krisis terjadi.
Secara keseluruhan, rupiah berada di bawah tekanan dari kombinasi sentimen eksternal dan faktor domestik, dan pergerakan lebih lanjut akan sangat dipengaruhi oleh hasil rapat the Fed serta perkembangan pasokan minyak Timur Tengah.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Parfum IKM Binaan Kemenperin Diekspor ke Papua Nugini Rp707 Juta
Parfum dan gel rambut PT Follow Me Indonesia diekspor ke Papua Nugini senilai USD40.436 (Rp707 juta), menand...
ESDM Anggarkan Rp27,37 T untuk Infrastruktur Energi 2027
Bahlil menetapkan pagu Anggaran ESDM 2027 Rp27,37 triliun; 82% dialokasikan untuk infrastruktur seperti list...
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tipis jadi Rp8.044 Triliun Juli 2026
Bank Indonesia: Utang luar negeri Indonesia Juli 2026 mencapai USD454,8 miliar atau Rp8.044,04 triliun, naik...
IHSG Menguat 0,36% di Sesi I, Energi Sentra Penguatan
IHSG menguat 0,36% pada jeda siang 16 Sept 2026, didorong kenaikan sektor energi dan antisipasi keputusan Th...
KAI Commuter 18 Tahun: Luncurkan Reverse Vending Machine
Pada HUT ke-18, KAI Commuter luncurkan RVM di lima stasiun Jabodetabek untuk tukar botol plastik dengan poin...
Harga Emas Galeri24 dan UBS Turun Rp5.000 per Gram
Emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian turun Rp5.000 per gram pada 16 September 2026; harga terbaru tercatat Rp2...