Ekonomi

IHSG Diprakirakan Konsolidasi Jelang Rilis Data Inflasi BPS

Bagikan:
Grafik IHSG dan suasana perdagangan di Bursa Efek Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan berkonsolidasi pada perdagangan Selasa, 1 September 2026, seiring pasar menanti rilis data inflasi dan data ekonomi lain dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta perkembangan geopolitik yang menaikkan harga minyak.

Ringkasan pasar dan posisi IHSG

Pada penutupan perdagangan Senin, IHSG menguat 0,11 persen ke level 6.525. Namun, sepanjang akhir Agustus pasar mencatat aksi jual bersih investor asing sebesar Rp710,56 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing antara lain:

  • CPIN
  • EMAS
  • BUKA
  • UNVR
  • ASII

Secara kinerja, Phintraco Sekuritas mencatat IHSG naik 4,64 persen selama Agustus, tetapi masih terkoreksi 24,53 persen sejak awal tahun (Januari–Agustus 2026).

Perkiraan teknikal dan data ekonomi yang dinanti

Tim analis Phintraco memperkirakan pergerakan IHSG pada hari ini akan berkisar di level 6.450–6.570 sambil menunggu data inflasi yang dirilis BPS. Proyeksi Phintraco untuk inflasi Agustus adalah kenaikan 0,2 persen, setelah pada Juli tercatat deflasi 0,14 persen.

"Untuk hari ini, secara teknikal IHSG diprakirakan akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

"Sehingga estimasinya, inflasi tahunan di bulan Agustus 2026 naik menjadi 3,13 persen, dari 2,88 persen di bulan Juli," ucap Tim Phintraco.

Proyeksi neraca perdagangan dan PMI

Selain inflasi, Phintraco memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan mencatat defisit sekitar USD 300 juta pada Juli 2026, lebih kecil dibandingkan defisit USD 450 juta pada Juni. Indeks PMI Manufacturing juga diperkirakan naik tipis menjadi 50,5 di Agustus dari 50,2 pada Juli.

Faktor global yang memengaruhi

Dari luar negeri, serangan AS ke wilayah Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia. Phintraco memperingatkan bahwa jika harga minyak tinggi dalam jangka panjang, tekanan inflasi dalam negeri bisa meningkat.

"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, berpotensi akan kembali mendorong kenaikan laju inflasi," ujar Tim Phintraco.

Di sisi kebijakan moneter global, sinyal The Fed yang menegaskan fokus menurunkan inflasi menuju target 2 persen meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada September. Kenaikan suku bunga global berpotensi menekan arus modal dan volatilitas pasar saham domestik.

Implikasi bagi investor

Investor disarankan mencermati rilis data BPS dan perkembangan harga minyak serta keputusan The Fed. Sentimen dari data inflasi dan neraca perdagangan kemungkinan menjadi pemicu utama pergerakan IHSG jangka pendek.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait