Erupsi Anak Krakatau Rusak CCTV, Gunung Berstatus Level III
Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan erupsi sejak Jumat malam, 4 September 2026, hingga Sabtu pagi. Lontaran material vulkanik menimpa peralatan pengamatan sehingga CCTV di lapangan dilaporkan tidak beroperasi. Aktivitas ini disertai dentuman dan gemuruh yang terdengar dari pos pengamatan.
Kerusakan CCTV dan rekaman terakhir
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, memastikan kamera pengawas terdampak material erupsi. Menurut laporan, perangkat berhenti merekam setelah terkena lontaran material.
Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik
CCTV terakhir merekam aktivitas erupsi pada Sabtu pukul 01.01 WIB. Pada rekaman itu terlihat fenomena lava fountain atau semburan lava pijar sebelum kamera kehilangan fungsi.
Kronologi dan parameter erupsi
Erupsi berlangsung dari Jumat 23.07 WIB dan berlanjut hingga pagi harinya. PVMBG mencatat satu kali letusan dengan amplitudo 70 milimeter. Durasi letusan tercatat mencapai sekitar enam jam, dan aktivitas vulkanik masih berlangsung ketika laporan dibuat.
Selama erupsi, petugas pengamatan mendengar suara dentuman dan gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran. Kondisi cuaca setempat dilaporkan berawan hingga mendung, dengan angin bertiup lemah hingga sedang.
Status, imbauan, dan pemantauan
Saat ini status Gunung Anak Krakatau ditetapkan pada Level III (Siaga). PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan masyarakat tidak mendekati kawasan gunung api. BNPB bersama PVMBG dan BPBD terus memantau perkembangan aktivitas secara intensif.
Pihak berwenang mengimbau warga tetap waspada namun tidak panik terkait isu tsunami. Kewaspadaan terutama ditujukan bagi masyarakat pesisir di wilayah Banten dan Lampung yang berpotensi terdampak gelombang akibat aktivitas vulkanik.
Dampak pengawasan dan langkah ke depan
Kerusakan kamera pengawas mengurangi kemampuan pemantauan visual jangka pendek. Petugas akan mengandalkan pengukuran seismik, pengamatan lapangan, dan laporan cuaca untuk menilai perkembangan selanjutnya. Perbaikan atau penggantian perangkat pengamatan akan diprioritaskan saat kondisi aman.
Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait dan menjauhi zona berbahaya di sekitar Anak Krakatau sampai kondisi dinyatakan stabil.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...