Percobaan Bunuh Diri Siswa Naik 2,7 Kali Lipat
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyatakan percobaan bunuh diri di kalangan siswa meningkat tajam berdasarkan data terbaru. Angka percobaan naik dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023, atau sekitar 2,7 kali lipat. Pernyataan itu disampaikan pada Temu Media Peningkatan Mental Health Awareness di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
Data dan tren nasional
Berdasarkan Global School-Based Student Health Survey, peningkatan ini berlangsung secara signifikan di seluruh Indonesia. Selain percobaan, siswa yang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup juga bertambah, tercatat naik sekitar 1,6 kali lipat.
Satu dari 10 siswa itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dan usia 11-17 merupakan usia yang rentan untuk mencoba untuk bunuh diri.
Kenaikan ganda pada pikiran dan percobaan bunuh diri menunjukkan masalah kesehatan jiwa pada usia sekolah perlu penanganan prioritas dari pemerintah dan masyarakat.
Kelompok rentan dan tanda awal
Dante menekankan usia 11 hingga 17 tahun sebagai kelompok yang paling rentan. Ia meminta orang tua dan tenaga pendidikan untuk mengenali perubahan yang berlangsung lama sebagai tanda bahaya.
- Gangguan tidur
- Perubahan berat badan
- Mudah tersinggung dan kecemasan berlebihan
- Sulit berkonsentrasi
- Perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok
Kalau ini berlangsung selama dua minggu dari gangguan fisik, emosi, dan perilaku, sulit konsentrasi, perubahan pola bicara, dan aktivitas yang mencolok lebih dari dua minggu. Maka harus cepat-cepat diidentifikasi sebagai kelainan jiwa.
Upaya pemerintah dan langkah penanganan
Kementerian Kesehatan mendorong deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis serta skrining kesehatan jiwa lewat layanan SATUSEHAT. Kemenkes juga menyediakan layanan bantuan Healing119 melalui nomor 119 ekstensi 8 untuk intervensi dan rujukan lebih lanjut.
Dante mengingatkan bahwa pertolongan awal tidak menunggu krisis. Lingkungan terdekat bisa membantu dengan langkah sederhana namun penting.
- Tanya: tanyakan apa yang dirasakan dengan empati
- Dengarkan: beri ruang tanpa menghakimi
- Temani: jangan biarkan sendiri saat dalam kondisi berat
- Hubungkan: sambungkan dengan keluarga atau tenaga ahli
Kita tidak harus menjadi ahli untuk jadi penolong mereka yang mengalami gangguan jiwa. Mulai dengan empat langkah sederhana, tanya, dengarkan, temani, dan hubungkan.
Penanganan dini dan dukungan komunitas dianggap krusial untuk menurunkan angka percobaan dan pikiran bunuh diri pada pelajar. Pemerintah dan sekolah diminta memperkuat program skrining, pendampingan, serta akses layanan jiwa agar kondisi yang rentan dapat diintervensi lebih cepat.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Mengenal Ikan Sidat: Omega-3 Tinggi, Potensi Pangan dan Ekonomi
Ikan sidat kaya Omega-3 (DHA & EPA) dan nutrisi lain, berpotensi jadi sumber pangan bergizi sekaligus komodi...
Paparan Panas Ancaman Kulit: Wardah Perkenalkan Sunscreen dengan Heat Defense
Wardah perkenalkan sunscreen dengan teknologi Heat Defense pada acara di Jakarta, 3 Oktober 2026, untuk lind...
Hari Hewan Sedunia: 5 Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai
Pada Hari Hewan Sedunia (4 Okt), kenali 5 penyakit zoonosis utama, cara penularan, dan langkah pencegahannya...
Dinkes Jabar: Influenza Tipe A Mudah Menular dalam Keluarga
Dinkes Jawa Barat ingatkan influenza tipe A mudah menular di keluarga; isolasi mandiri dan pakai masker pent...
Nakes Tangerang Inspeksi Jajanan Sekolah untuk Cegah Pangan Tak Aman
Nakes Tangerang inspeksi jajanan sekolah untuk memastikan kebersihan, keamanan pangan, dan mendukung tumbuh...
Tangerang Waspadai Influenza Tipe A: Dinkes Imbau Orang Tua Waspada
Dinkes Kota Tangerang imbau orang tua waspada terhadap influenza tipe A; Kabupaten Tangerang melaporkan stat...