Kasus TBC di Banten Baru 66% Terdeteksi, Dinkes Kejar 90%
Dinas Kesehatan Provinsi Banten menyatakan penemuan kasus tuberkulosis (TBC) sepanjang 2026 baru mencapai 66 persen dari estimasi 50.750 penderita, atau 33.495 kasus yang tercatat hingga awal September. Artinya, sekitar 17.255 orang diperkirakan belum terdeteksi, sehingga Dinkes menargetkan penemuan hingga 90 persen melalui penemuan aktif dan Program Cek Kesehatan Gratis.
Angka sekarang dan target yang dikejar
Dinkes Banten menilai capaian 66 persen masih di bawah target. Kepala Dinkes Banten, Ati Pramudji Hastuti, menyebut estimasi total penderita TBC tahun ini adalah 50.750. Sampai 3 September 2026 yang tercatat sebanyak 33.495 kasus.
Angka tersebut diperkirakan baru mencapai 66 persen dari estimasi 50.750 penderita TBC yang menjadi target penemuan kasus tahun ini. Artinya, masih ada sekitar 17.255 penderita TBC yang diperkirakan belum terdeteksi dan masih menjadi pekerjaan rumah Dinkes Banten
Dinkes mematok target minimal 90 persen penemuan kasus dari estimasi. Dengan target itu, sedikitnya 45.675 kasus harus ditemukan untuk mendekatkan Banten pada target eliminasi TBC.
Strategi penemuan kasus
Untuk mengejar target, petugas kesehatan dikerahkan ke berbagai wilayah untuk melakukan penemuan kasus secara aktif. Metode ini dikenal sebagai active case finding, yakni mencari warga yang bergejala atau berisiko agar mendapat pemeriksaan lebih dini.
Kalau TBC itu ditargetkan tahun ini harus menemukan sekitar 50.750, jadi perkiraan estimasi ada segitu penderita TBC di Banten
Peran Program Cek Kesehatan Gratis
Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan upaya penemuan penderita juga didukung oleh Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hingga kini sekitar 6,48 juta dari 12,9 juta penduduk Banten telah mengikuti program tersebut, atau setara 50,24 persen sasaran.
Selain TBC, pemeriksaan CKG juga menemukan penyakit tidak menular, yang paling sering adalah hipertensi dan diabetes. Pemerintah menekankan pengendalian penyakit ini untuk mengurangi risiko komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Penyakit tersebut tidak boleh diabaikan. Karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal apabila tidak dikendalikan
Tindak lanjut bagi warga yang terdiagnosis
Warga yang teridentifikasi bermasalah kesehatan mendapatkan tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan. Untuk menjaga kesinambungan pengobatan, petugas melakukan langkah sebagai berikut.
- Memberikan obat pada hari pemeriksaan untuk penderita hipertensi atau diabetes.
- Mengarahkan pasien untuk melanjutkan pengobatan dan kontrol di Puskesmas jika obat habis.
- Mengedukasi warga sehat untuk kembali mengikuti CKG pada tahun berikutnya.
Kemudian yang kedua, bagi yang didiagnosis misalkan hipertensi atau diabetes, hari itu juga kita berikan obat. Kalau obatnya habis, kita edukasi untuk balik ke puskesmas
Upaya ini menjadi bagian dari strategi lebih luas untuk mempercepat deteksi dan pengobatan TBC di Banten. Pemerintah provinsi menegaskan komitmen untuk meningkatkan cakupan penemuan kasus agar mendekati target eliminasi TBC nasional.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Mengapa Sindrom Riley-Day Membuat Penderitanya Tak Merasa Nyeri
Sindrom Riley-Day membuat penderitanya sulit merasakan nyeri, muncul sejak bayi dan terkait kelainan gen ELP...
Mayoritas Warga Banten Alami Hipertensi dan Diabetes
Gubernur Andra Soni menyatakan hipertensi dan diabetes jadi masalah utama warga Banten berdasarkan cek keseh...
Resistensi Antibiotik: Penyebab, Risiko, dan Cara Mencegah
Resistensi antibiotik terjadi saat bakteri kebal obat; kenali penyebab, risiko, dan langkah pencegahan agar...
Layanan Kesehatan Pascagempa Pulih dalam Dua Pekan
Kemenkes menyatakan seluruh fasilitas kesehatan terdampak gempa kembali beroperasi dalam kurang dari dua min...
Kemenkes: 5,5 Juta Warga Sumatra-Kalimantan Terdampak Karhutla
Kemenkes catat 5–5,5 juta warga Sumatra-Kalimantan terdampak karhutla; 13.500 kasus ISPA tercatat Juli–Agust...
BPOM Kawal Terapi Sel: Sains, Risiko, dan Regulasi
BPOM mengawal pengembangan terapi sel di ACTO 2026 dengan pendekatan sains dan risiko untuk menjamin keamana...