KAI Tata Stasiun dan Bangun 8 Menara Hunian Vertikal di Jakarta
PT Kereta Api Indonesia (KAI) menata empat stasiun integrasi dan membangun delapan menara apartemen di atas lahan 2,2 hektare di Jakarta untuk mengurai kepadatan penumpang dan menyediakan hunian terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Rencana ini sekaligus mendistribusikan titik naik-turun kereta antarkota agar pusat kota tidak mengalami penumpukan.
Strategi penataan stasiun dan distribusi transit
VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, memaparkan efektivitas pembagian beban stasiun pada Jumat, 4 September 2026. Menurut Anne, pengalihan titik naik-turun kereta antarkota membantu mengurangi kepadatan pada stasiun-stasiun pusat ibu kota.
Anne menyebutkan karakteristik mobilitas komuter di beberapa simpul, khususnya Stasiun BNI City dan Manggarai. Ia menekankan fungsi stasiun sentral sebagai titik transit bagi ratusan ribu pengguna setiap hari.
"Dan kita mebahwa Manggarai itu bisa saja dalam satu hari yang transit itu antara 180 sampai 220.000 pelanggan di Manggarai. Jadi volumenya itu adalah volume transit, bukan yang masuk dan keluar di Stasiun Manggarai ya." — Anne Purba
Ia juga merinci pembagian peran stasiun: beberapa kereta jarak jauh akan berhenti di Manggarai, Senen, atau Gambir sesuai kebutuhan operasional. Tujuannya, mencegah penumpukan pada satu simpul dan mempermudah aliran penumpang.
Hunian vertikal di kawasan TOD
KAI mengembangkan kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang mencakup delapan menara apartemen pada lahan 2,2 hektare. Proyek ini diarahkan untuk menyediakan hunian yang dapat diakses oleh MBR dan terintegrasi langsung dengan stasiun.
Saat mengunjungi Manggarai, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menyatakan dukungan terhadap pemanfaatan aset perkeretaapian untuk permukiman modern. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar instansi agar penyediaan rumah berjalan lebih cepat.
"Di Manggarai, KAI bersama para pihak terkait membangun hunian vertikal di tengah kota yang nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat dengan harga terjangkau." — Maruarar Sirait
Kriteria hunian terjangkau
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjabarkan standar hunian terjangkau saat memberikan keterangan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa hunian harus layak, terjangkau, dan berkelanjutan.
- Layak: memenuhi standar keselamatan, kualitas, kenyamanan, dan fungsi hunian.
- Terjangkau: dikembangkan sesuai kebijakan dan skema pemerintah bagi target masyarakat.
- Berkelanjutan: pemanfaatan lahan efisien, terhubung dengan angkutan massal, patuh lingkungan, dan pengelolaan jangka panjang.
"Layak berarti memenuhi standar keselamatan, kualitas, kenyamanan, dan fungsi hunian. Terjangkau berarti pengembangannya mengikuti kebijakan dan skema pemerintah bagi masyarakat yang menjadi sasaran. Berkelanjutan mencakup pemanfaatan lahan secara efisien, keterhubungan dengan angkutan massal, kepatuhan terhadap lingkungan, serta pengelolaan kawasan dalam jangka panjang." — Bobby Rasyidin
Dampak pada mobilitas dan replikasi model
Pengembangan hunian di sekitar stasiun, khususnya Manggarai, diharapkan menurunkan ketergantungan pada kendaraan pribadi. KAI juga memastikan desain kawasan mendukung kelancaran operasional kereta dan keselamatan penumpang, termasuk jalur pedestrian yang nyaman menuju peron.
Lebih jauh, pemerintah dan KAI berencana mereplikasi model TOD ini pada stasiun potensial lain di Indonesia untuk memperbaiki mobilitas perkotaan dan menyediakan rumah terjangkau di pusat aktivitas ekonomi.
Dengan langkah ini, KAI berharap menekan kemacetan di ruas jalan utama dan meningkatkan akses publik ke hunian yang dekat dengan transportasi massal.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...