Asupan DHA Anak Masih Jadi Tantangan, Minuman Cokelat Berfortifikasi
Asupan DHA anak usia sekolah masih kurang dan memicu perhatian para pakar gizi. Studi 2016 publikasi British Journal of Nutrition menemukan delapan dari 10 anak Indonesia usia 4-12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah rekomendasi FAO/WHO. Kebutuhan DHA penting untuk fungsi kognitif, memori, dan konsentrasi anak.
Tingkat asupan DHA di Indonesia
Data menunjukkan defisit asupan asam lemak omega-3 pada banyak anak. DHA adalah komponen penting jaringan otak yang mendukung perkembangan kognitif. Kekurangan dapat berdampak pada kesiapan belajar dan performa di sekolah.
Preferensi rasa memengaruhi pilihan makanan
Kendala pemenuhan nutrisi tak hanya soal ketersediaan. Pilihan rasa menjadi faktor utama. Riset Universitas Gadjah Mada (2015) di Purbalingga mencatat 53 persen siswa SD dan 39,5 persen siswa SMP cenderung menolak susu berperisa plain. Sementara itu, penelitian Universitas Negeri Surabaya (2016) melaporkan 52,7 persen siswa SD lebih menyukai varian rasa cokelat.
Industri tanggapi dengan produk berfortifikasi
Produsen minuman menanggapi tren preferensi rasa tersebut dengan memodifikasi produk agar lebih menarik sekaligus kaya nutrisi. Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk, Haruman Rustandi, menyatakan perusahaan ingin membantu orang tua memenuhi kebutuhan gizi anak tanpa mengorbankan selera.
“Setiap ibu punya cara sendiri untuk menunjukkan cintanya, dan salah satunya lewat apa yang mereka sajikan untuk keluarga. Kami ingin Champion menjadi bagian dari perjalanan itu, membantu para ibu menghadirkan pilihan yang membantu kebutuhan nutrisi anak sekaligus memiliki rasa yang dapat dinikmati anak-anak.”
Sejalan dengan pernyataan itu, Champion memperkenalkan minuman rasa cokelat yang diperkaya DHA dan ditujukan untuk anak usia 7-12 tahun. Produk ini juga mengandung 10 jenis vitamin serta cokelat malt yang diklaim membantu menyediakan energi secara berkala.
Saran gizi untuk orang tua
Pemenuhan nutrisi optimal tetap paling baik dicapai melalui pola makan beragam dan seimbang. Orang tua disarankan mempertimbangkan kandungan gizi sekaligus preferensi rasa saat memilih produk untuk anak agar konsumsi menjadi konsisten dan bernutrisi.
Dengan kombinasi pendekatan edukasi gizi dan pilihan produk yang menarik, diharapkan kebutuhan DHA anak dapat meningkat dan mendukung proses belajar serta aktivitas sehari-hari.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
PB PDHI Tegaskan Peran Vital Dokter Hewan untuk Kesehatan Publik
PB PDHI menegaskan dokter hewan berperan penting menjaga keamanan produk hewani, mencegah zoonosis, dan meng...
PB PDHI: Indonesia Butuh Minimal 30 Ribu Dokter Hewan
PB PDHI menilai Indonesia membutuhkan minimal 30.000 dokter hewan karena jumlah saat ini sekitar 16.000 belu...
Kasus TBC di Banten Baru 66% Terdeteksi, Dinkes Kejar 90%
Dinkes Banten sebut 33.495 kasus TBC terdeteksi (66%) hingga Sept 2026; sekitar 17.255 pasien belum ditemuka...
9 Cara Mudah Meredakan Gejala Masuk Angin
Sembilan langkah sederhana di rumah untuk meredakan gejala masuk angin seperti batuk, hidung tersumbat, dan...
Benarkah Susu Wajib dalam Menu Bergizi? Penjelasan Kemenkes
Susu bergizi namun tidak wajib; Kemenkes dan WHO menekankan keberagaman makanan untuk memenuhi protein dan k...
Dokter Nucky Raih Doktor: Sinkronisasi BPJS dan Jasa Raharja
Dokter Nucky Indra Praja meraih gelar Doktor Ilmu Hukum (cumlaude, IPK 3,96) lewat disertasi tentang sinkron...