Serapan Belanja Modal Jember Hanya 16,55% di Semester I 2026
JEMBER – Realisasi belanja modal dalam APBD Kabupaten Jember 2026 baru mencapai 16,55 persen hingga semester pertama, padahal alokasi belanja modal justru naik dalam Perubahan APBD menjadi Rp427,574 miliar. Kenaikan anggaran ini bertujuan untuk pembangunan aset dan peningkatan layanan publik.
Perubahan alokasi belanja
Sebelum perubahan, belanja modal dialokasikan Rp401,576 miliar. Dalam Perubahan APBD 2026 angka itu bertambah sebesar Rp25,998 miliar menjadi Rp427,574 miliar.
Sementara itu, porsi belanja operasi jauh lebih besar dan realisasinya juga lebih tinggi. Hingga semester pertama, belanja operasi mencapai 44,37 persen dari pagu perubahan sekitar Rp3,7 triliun.
Rincian kenaikan dan penurunan pos anggaran
Beberapa pos belanja modal mengalami kenaikan pada Perubahan APBD 2026. Adapun sebagian pos belanja operasi juga mengalami penyesuaian naik atau turun.
| Kategori | Sebelum Perubahan (Rp) | Setelah Perubahan (Rp) |
|---|---|---|
| Belanja modal (total) | 401,576 miliar | 427,574 miliar |
| Tanah (belanja modal) | - | 4,2 miliar |
| Peralatan dan mesin | 154,211 miliar | 165,898 miliar |
| Gedung dan bangunan | 85,667 miliar | 98,222 miliar |
| Jalan, jaringan, irigasi | 159,925 miliar | 252,442 miliar |
| Belanja pegawai | 1,366 triliun | 1,567 triliun |
| Belanja barang dan jasa | 2,034 triliun | 2,204 triliun |
| Belanja hibah | 183,484 miliar | 172,699 miliar |
| Bantuan sosial | 22,191 miliar | 7,191 miliar |
Realisasi keseluruhan dan perhatian DPRD
Secara keseluruhan, belanja daerah Jember 2026 meningkat dari Rp4,504 triliun menjadi Rp4,591 triliun dalam anggaran perubahan. Namun realisasinya hingga semester pertama baru mencapai 40,61 persen.
Rendahnya serapan belanja modal menjadi perhatian DPRD Jember karena pemerintah daerah justru menambah alokasi untuk pembangunan. Wakil Ketua DPRD Jember, Widarto, menilai peningkatan anggaran positif jika dapat direalisasikan dan memberi manfaat kepada masyarakat.
"Prinsipnya belanja modal tinggi itu bagus. Tapi pertanyaannya, apakah ini nanti bisa terserap semua? Strategi apa yang akan dilakukan agar terserap, wa bil khusus belanja modal?"
Widarto mengingatkan bahwa besarnya alokasi tidak cukup dilihat sebagai indikator keberpihakan pembangunan. Pemerintah harus memastikan perencanaan, pengadaan, dan pelaksanaan proyek berjalan sesuai jadwal agar tambahan anggaran tidak berakhir sebagai SiLPA.
Implikasi ke depan
Tanpa percepatan serapan, proyek fisik dan peningkatan layanan publik berisiko tertunda. Pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah konkret, termasuk percepatan proses pengadaan dan koordinasi antar OPD, untuk memastikan anggaran perubahan berdampak nyata bagi warga Jember.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
PDI Perjuangan Buka Posko dan Sekretariat Jadi Pengungsian Pasca Gempa Flores
PDI Perjuangan membuka posko dan sekretariat sebagai tempat pengungsian untuk korban gempa M7,7 di Flores, m...
Banteng Jatim Bangkit, Kalahkan Banteng Maluku 2-0
Banteng Jatim FC menang 2-0 atas Banteng Maluku Raya di Soekarno Cup 2026, menandai perbaikan mental dan per...
Banteng Kalimantan Timur Libas Yogyakarta 4-0, Wahyu Satria Cetak Quattrick
Banteng Kalimantan Timur menang 4-0 atas Banteng D.I. Yogyakarta di Soekarno Cup 2026. Wahyu Satria jadi bin...
Soekarno Cup 2026 Awali Pertandingan dengan Hening Cipta untuk Korban Gempa
Soekarno Cup 2026 di Surabaya, Gresik, dan Bangkalan membuka laga dengan one minute silence untuk mendoakan...
Propemperda Sumenep 2026: 31 Raperda Ditetapkan, 10 Masuk Fasilitasi Pemprov
Sebanyak 31 Raperda masuk Propemperda Sumenep 2026; 10 di antaranya sedang difasilitasi Pemprov Jatim untuk...
PDI Perjuangan Minta KUA-PPAS Jember Diputuskan Segera
Fraksi PDI Perjuangan minta KUA-PPAS Jember 2027 diputuskan segera agar pembahasan anggaran tak terganggu po...