Nasional

Yusuf Ronodipuro Siarkan Proklamasi Indonesia ke Dunia

Bagikan:
Yusuf Ronodipuro, penyiar yang menyiarkan Proklamasi Indonesia 1945

Yusuf Ronodipuro, penyiar muda berusia 26 tahun, berhasil menyiarkan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia pada malam hari setelah pembacaan proklamasi. Peristiwa itu berlangsung dari studio siaran luar negeri meski kondisi gedung radio dikepung pasukan Jepang.

Kisah perjuangan penyiar tersebut kembali disampaikan oleh Rosarita Niken Widiastuti pada Senin, 17 Agustus 2026, yang memberi apresiasi atas keberanian Yusuf mengalihkan siaran di tengah tekanan militer.

Kondisi radio dan pengalihan siaran

Sejak 14 Agustus 1945, area gedung Radio Hoso Kyoku di Jalan Medan Merdeka Barat dikepung ketat oleh pasukan Kempetai. Penguasa militer kala itu menghentikan seluruh kegiatan penyiaran informasi ke luar negeri.

Pada petang hari, seorang pegawai kantor berita Domei bernama Syahruddin menyusup masuk lewat tembok belakang gedung. Ia menyerahkan selembar kertas berisi pesan khusus dari Adam Malik kepada Yusuf.

Bersama Bachtiar Loebis dan Joe Seragih, Yusuf lalu mengalihkan susunan kabel pemancar ke studio internasional yang sedang tidak aktif. Cara itu dipilih untuk menghindari penjagaan ketat tentara Jepang dan memastikan pesan kemerdekaan dapat tersiar ke luar.

Siarkan proklamasi dan respons dunia

Pada pukul 19.00 WIB, Yusuf membacakan naskah proklamasi. Sekitar 20 menit kemudian, ia mengulang pembacaan itu dalam bahasa Inggris. Siaran tersebut kemudian diteruskan oleh radio luar negeri seperti BBC London dan Radio Amerika.

Penindasan di lokasi dan setelahnya

Begitu mengetahui siaran itu menyebar, tentara Kempetai menyerbu lokasi. Yusuf dan Bachtiar Loebis dipukuli hingga babak belur. Seorang perwira Jepang bahkan hampir memenggal kepala Yusuf dengan pedang katana, namun aksi penyiksaan itu dihentikan setelah pasukan Jepang dinyatakan kalah dalam perang dunia.

Usai kejadian, Yusuf mengayuh sepeda menuju rumah pelukis Basuki Abdullah di kawasan Gambir. Keesokan harinya ia menjalani perawatan medis di rumah sakit di Salemba.

Peran setelah kemerdekaan dan akhir hayat

Pada 11 September 1945, Yusuf turut mendirikan lembaga Radio Republik Indonesia. Ia juga dikenal mencetuskan slogan "Sekali di Udara Tetap di Udara", yang kemudian melekat dalam dunia penyiaran nasional.

Muhammad Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga pada 30 September 1919 dan meninggal dunia pada 27 Januari 2008 saat dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta pada usia 88 tahun.

Warisan Yusuf sebagai penyiar yang menyiarkan proklamasi tetap menjadi bagian penting sejarah perjuangan kemerdekaan dan perkembangan penyiaran di Indonesia.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait