Lokal

Waspada bentuk Litbang, pakar: survei harus transparan

Bagikan:
Ilustrasi kegiatan penelitian dan survei oleh tim redaksi dan peneliti di kantor media

Medan. Harian Waspada meluncurkan program survei dan riset melalui pembentukan tim Litbang untuk memperkuat peran media sebagai penyedia data yang kredibel dan bermanfaat bagi publik. Pengumuman ini dibahas dalam wawancara di Medan, Minggu (1/11), dan mendapat sambutan dari pakar komunikasi yang menekankan pentingnya metodologi dan independensi.

Mengapa media perlu jadi produsen data

Pakar Ilmu Komunikasi Dr Sahkyan Asmara M.SP menilai inisiatif tersebut layak diapresiasi. Menurutnya, media tidak cukup berhenti pada fungsi penyampai informasi; media harus naik kelas menjadi produsen data yang dapat menjadi rujukan.

“Fungsi media tidak boleh hanya berhenti sebagai penyampai informasi. Media harus naik kelas menjadi produsen data,”

Sahkyan menilai organisasi media yang telah lama menjadi rujukan memiliki modal sosial dan kredibilitas untuk mengumpulkan data yang lebih kontekstual. Ia menambahkan bahwa hasil survei yang baik bisa menjadi bahan evaluasi bagi media, pemerintah, pelaku usaha, dan rakyat.

Standar survei agar dapat dipertanggungjawabkan

Sahkyan menguraikan empat standar utama yang harus dipenuhi agar survei media dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah:

  • Metode sampling yang jelas dan dapat dijelaskan.
  • Jumlah responden representatif dengan margin of error yang terbuka.
  • Kuesioner netral yang tidak menggiring jawaban.
  • Pengolahan data yang transparan dan dapat diaudit.

Ia juga membedakan antara polling dan survei: polling bisa dilakukan siapa saja tanpa kontrol, sedangkan survei akademik memiliki variabel kontrol dan standar ilmiah.

Rekomendasi praktis untuk tim Litbang

Untuk menjaga kredibilitas, Sahkyan menyarankan langkah-langkah operasional sebagai berikut:

  • Rekrut tenaga ahli statistik dan ilmu sosial, bukan hanya wartawan.
  • Susun SOP dan pisahkan fungsi Litbang dari redaksi serta kepentingan bisnis.
  • Buat dewan etik internal dan libatkan akademisi sebagai peer reviewer.
  • Adakan pelatihan metodologi secara berkala.

Ia menekankan publikasi tanpa metodologi yang jelas berisiko menyesatkan dan merusak kepercayaan publik.

“Sekali publik merasa dibohongi oleh data yang metodologinya tidak akurat, kepercayaan terhadap media bisa runtuh,”

Dampak bagi kebijakan dan publik

Jika dijalankan dengan benar, survei media dapat mendorong kebijakan berbasis data. Hasil survei tematik dapat mengukur kepuasan layanan publik, penanganan banjir, kondisi ekonomi, hingga aspirasi pemilih menjelang Pilkada. bagi pemerintah daerah, survei menjadi bahan pertimbangan kebijakan yang lebih terukur.

Sahkyan merekomendasikan konsistensi dan keberanian publikasi: gelar survei tematik rutin, buka metodologi setiap rilis, dan publikasikan hasil apa adanya tanpa takut tekanan politik atau bisnis. Kepercayaan, menurutnya, terbentuk dari integritas data dan keberanian bersikap jujur.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait