Teknologi

Indonesia Netral di Rivalitas AI AS-China, Perkuat Kerja Sama Korea

Bagikan:
Diplomasi dan kerja sama AI antara Indonesia dan Korea Selatan

Jakarta. Indonesia memilih posisi netral di tengah rivalitas AS-China soal kecerdasan buatan (AI) dan mendorong hasil konkret melalui kerja sama bilateral dengan Korea Selatan.

Inti kebijakan: fokus pada implementasi

Di tengah perlombaan global antara AS dan China untuk memimpin teknologi AI, pengamat menilai Jakarta dan Seoul harus memastikan kesepakatan yang dibuat benar-benar menghasilkan manfaat nyata. Usulan itu disampaikan oleh Dedy Permadi, pengajar hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada, dalam sebuah lokakarya.

Langkah kedua negara dan isi MoU

Pada awal tahun ini kedua pemerintah menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait AI untuk layanan kesehatan primer dan pengembangan sumber daya manusia. Cakupan MoU meliputi:

  • AI untuk layanan kesehatan primer
  • kesehatan digital atau digital wellness
  • kesehatan ibu dan anak

Menurut Dedy, fokus terbaik adalah mengimplementasikan kesepakatan tersebut secara nyata, bukan hanya retorika.

Uji coba di puskesmas sebagai langkah praktis

Dedy menyarankan Korea Selatan melakukan pengembangan prototipe AI yang diperlukan dan menguji coba di puskesmas terpencil di Indonesia. Ia menyebut pengalaman pengembangan layanan medis berbasis AI di wilayah pedesaan Korea bisa saling menguntungkan.

"Korea Selatan sudah mencoba memperluas penggunaan AI untuk layanan medis di wilayah pedesaan, sesuatu yang juga sangat dibutuhkan di negara kita. Korea bisa menguji modelnya di pulau-pulau kita," ujar Dedy.

Energi untuk mendukung permintaan AI

Delegasi Korea menekankan aspek energi sebagai bagian dari kerja sama. Kim Chanwoo, minister counsellor urusan ekonomi di Kedutaan Korea di Jakarta, mengaitkan kebutuhan listrik pusat data AI dengan MoU energi bersih yang dibawa pulang Presiden Prabowo setelah kunjungan ke Korea.

"Meningkatnya permintaan listrik dari pusat data akan menuntut sumber energi terbarukan, termasuk nuklir. Kami memiliki pengalaman, teknologi, dan potensi untuk itu," kata Kim Chanwoo.

MoU energi mencakup kerja sama pada tenaga nuklir, hidrogen bersih, dan energi terbarukan.

Posisi Indonesia antara WAICO dan Pax Silica

Dalam lanskap geopolitik, China mendirikan WAICO yang mempromosikan tata kelola AI, sedangkan AS meluncurkan Pax Silica pada akhir 2025 untuk mengamankan rantai pasok mineral kritis bagi AI. Indonesia merupakan anggota pendiri WAICO, namun pejabat pemerintah juga menyatakan keterlibatan dengan Pax Silica.

Senior Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kedua kelompok memiliki prioritas berbeda dan tak harus dipertentangkan. Pada pertemuan G20 di Atlanta, pejabat AS menekankan pentingnya mineral kritis dan rantai pasok.

Penutup: manfaat praktis dan langkah ke depan

Pakar menilai strategi terbaik bagi negara-negara menengah seperti Indonesia dan Korea adalah memperdalam kerja sama yang langsung menyelesaikan masalah domestik. Langkah praktis meliputi uji coba teknologi AI di fasilitas kesehatan lokal dan sinkronisasi kebutuhan energi untuk menopang infrastruktur digital.

Lokakarya tempat pernyataan itu disampaikan merupakan bagian dari program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea, inisiatif peningkatan kapasitas yang diselenggarakan bersama oleh Foreign Policy Community of Indonesia dan Korea Foundation.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait