UMKM Lukis Fesyen Bertahan lewat Inovasi dan Promosi Sosial Media
Pelaku UMKM lukis fesyen terus bertahan dengan inovasi produk dan promosi digital. Dua pelaku usaha dari Semarang dan Surabaya mengatakan perubahan media lukis, teknik produksi, dan konsistensi promosi membantu mempertahankan pesanan meski persaingan meningkat. Pernyataan itu disampaikan saat dialog virtual pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Beralih dari kanvas ke tas dan masker
Pemilik Dewidji Lukis Semarang, Wiwik Soesmono Martosiswojo, awalnya hanya melukis di kanvas. Namun permintaan kanvas menurun sehingga ia mulai melukis pada tas dan kemudian masker selama pandemi.
Peralihan media itu menambah nilai guna produk sehingga pesanan meningkat. Wiwik mulai serius menggarap usaha sejak 2012 dan memutuskan resign dari perusahaan pada 2016 karena lonjakan order.
Karena saat itu saya kebanjiran order, jadi saya kewalahan. Akhirnya saya memilih untuk resign dan mengerjakan usaha lukis
Strategi produksi dan penyesuaian motif
Wiwik menyatakan ia menyesuaikan motif dengan pangsa pasar daerah. Untuk Semarang, tema Kota Lama dan Lawang Sewu menjadi andalan, sementara pelanggan ibu-ibu lebih memilih motif bunga.
Dalam proses produksi, ia mampu menyelesaikan sekitar lima tas lukis per hari. Untuk pesanan besar ia memakai pola mal dari karton agar pengerjaan lebih cepat dan rapi.
Saya bikin dulu di karton, kemudian saya blet gitu. Jadi lebih cepat nggak satu-satu
Pemasaran melalui media sosial
Keduanya menekankan pentingnya promosi digital. Wiwik aktif mengunggah karya di platform sosial sehingga produk lebih mudah ditemukan calon pembeli dan masuk ke peringkat pencarian.
Semakin kita rajin posting di Instagram, nama kita di Google dicari kita akan di atas. Jadi makanya kadang saya dapat pesanan dari buyer yang tidak dikenal itu mereka langsung WA ke saya
Perkembangan usaha Zenea Lukis
Di Surabaya, pemilik Zenea Lukis, Nita Erlina, memulai usaha dari hobi yang berkembang setelah banyak orang tertarik saat ia hadir di komunitas. Kini usahanya melibatkan sembilan pelukis serta pengrajin tas dan penjahit.
Nita menekankan detail lukisan sebagai ciri khas produk, sehingga tampilan terlihat lebih natural dan hidup. Namun ia juga menyebut tantangan utama adalah pembeli yang menawar harga terlalu rendah.
Kadang agak sedihnya karena kami mengerjakannya dengan hati, dengan sepenuh hati. Tapi begitu selesai orang menawar yang sangat rendah
Implikasi dan prospek
Kasus kedua UMKM ini menunjukkan bahwa adaptasi produk dan pemasaran digital menjadi kunci kelangsungan usaha kreatif. Ke depan, penguatan nilai tambah produk dan edukasi harga ke konsumen bisa membantu menjaga keberlanjutan usaha.
Berita Terkait
Menperin Dukung Arahan Prabowo Percepatan Industrialisasi Nasional
Menperin Agus Gumiwang menyambut arahan Presiden Prabowo untuk percepat industrialisasi agar Indonesia menja...
Danantara Dirikan BUMN DSI untuk Perkuat Tata Kelola Ekspor
Danantara mendirikan BUMN baru PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) untuk memperkuat tata kelola ekspor-...
IHSG Turun ke 6.293,80 di Pembukaan, Sentimen Kebijakan dan BI Jadi Perhatian
IHSG dibuka di 6.293,80 pada 21 Mei 2026, turun 24,69 poin; sentimen kebijakan RAPBN 2027 dan kenaikan suku...
Mendag: CEPA Indonesia-Kanada Perkuat Akses Produk RI ke Amerika Utara
Mendag Budi Santoso: Indonesia-Canada CEPA memperkuat akses produk RI ke Kanada dan membuka jalur ke pasar A...
OJK: Kinerja BPD Tetap Solid, Aset Tembus Rp1.036 Triliun
OJK melaporkan kinerja BPD solid per Maret 2026: aset Rp1.036,51 triliun, CAR 26,19%, kredit naik ke Rp656,8...
Produk Kriya IKM Binaan Kemenperin Raih Perhatian Global
Produk kriya IKM binaan Kemenperin mendapat perhatian buyer internasional setelah tampil di Home InStyle 202...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!