Twibbon MPLS Aman Jika Tanpa Identitas Pribadi Lengkap
Pengamat keamanan siber Pratama Persadha menilai unggahan foto Twibbon pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak otomatis membahayakan data pribadi. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026, dengan catatan unggahan tidak memuat identitas lengkap seperti nama, alamat, atau asal sekolah. Ia mengingatkan bahwa risiko muncul saat informasi pendukung digabungkan dengan foto.
Penilaian ahli tentang foto Twibbon
Pratama, Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, mengatakan foto sederhana bersama orang tua umumnya aman. Ia menilai gambar Twibbon seringkali beresolusi rendah sehingga tidak langsung berguna untuk manipulasi gambar atau penipuan canggih.
“Kalau misalkan hanya muka, kemudian hanya fotonya sama orang tuanya, menurut saya sih nggak ada masalah. Karena untuk menjadikan itu data untuk dilakukan misalkan ‘social engineering’, itu butuh data-data yang lain lagi,”
Risiko jika menyertakan identitas lengkap
Meski begitu, Pratama menegaskan risiko meningkat bila unggahan mencantumkan nama lengkap, alamat, asal sekolah, atau identitas orang tua. Menurutnya, pelaku kejahatan siber membutuhkan gabungan beberapa data untuk menyusun profil dan menyusun serangan seperti phishing.
Ia menjelaskan pelaku kini semakin mahir menggali informasi dari banyak sumber. Dengan data terbatas, pelaku bisa melakukan doxing dan menggabungkan informasi dari akun media sosial lain.
“Karena sekarang sudah pintar-pintar ini, penjahat-penjahat itu sudah jago-jago dengan data-data yang tidak terlalu banyak. Dia bisa menggali sendiri, mereka menggali-gali sendiri, nyari akun-akun media sosialnya, mereka melakukan ‘doxing’,”
Saran praktis untuk orang tua dan sekolah
Pratama mendukung penggunaan Twibbon pada hari pertama MPLS sebagai bentuk kebanggaan siswa dan orang tua. Namun ia menekankan agar sekolah dan wali murid membatasi informasi yang ditampilkan dalam unggahan agar tidak memudahkan penjahat.
- Hindari mencantumkan nama lengkap dan alamat pada caption.
- Jangan menampilkan data orang tua, nomor kontak, atau asal sekolah secara terbuka.
- Periksa pengaturan privasi akun sebelum memposting foto.
Implikasi lebih luas
Pratama mengingatkan bahwa kebocoran data pada berbagai layanan digital lebih berbahaya jika dikaitkan dengan identitas lengkap. Ia menyarankan edukasi berkelanjutan tentang praktik aman bermedia sosial untuk siswa dan orang tua.
Dengan pembatasan data sederhana, penggunaan Twibbon dapat tetap menjadi momen positif tanpa meningkatkan risiko keamanan siber.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...
Pelestarian Batik: Wamenperin Dorong Perajin Ikuti Pasar
Wamenperin Faisol Riza mendorong pelestarian batik seiring penguatan perajin agar mampu mengikuti pasar, did...
Kemenkum Fasilitasi Mediasi Sengketa Merek ASICS
Kemenkum memfasilitasi mediasi ASICS vs Toko Istana Sepatu pada 3 Okt 2026 di Jakarta untuk menyelesaikan du...
Komdigi: Perlindungan Sisa Kuota Tak Boleh Dikenai Biaya
Kemkomdigi menegaskan sisa kuota pelanggan tidak boleh dikenai biaya, merujuk putusan MK; pemerintah akan ev...
PBNU Terbitkan Pedoman Hari Santri 2026, Solidaritas untuk Palestina
PBNU keluarkan pedoman Hari Santri 2026 berfokus pada tradisi, layanan masyarakat, dan solidaritas kemanusia...
Terapi Seni Bantu Pulihkan Trauma Anak, Ini Cara dan Perannya
Seni atau art terapi dinilai efektif bantu pulihkan trauma anak melalui ekspresi kreatif, lingkungan aman, d...