Lokal

TPAK Perempuan Aceh 45,5%: Perhatian pada Kesehatan Psikososial

Bagikan:
Ilustrasi pekerja perempuan di Aceh menghadapi beban ganda dan kebutuhan dukungan psikososial

BANDA ACEH — Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Februari 2026 menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan hanya 45,50%, jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki yang mencapai 81,45%. Kondisi ini memicu perhatian terhadap perlindungan dan kesehatan psikososial pekerja perempuan di Aceh.

Data partisipasi kerja di Aceh

BPS Aceh mencatat jumlah penduduk usia kerja pada Februari 2026 sekitar 4,188 juta orang, dengan angkatan kerja sekitar 2,657 juta orang. Secara keseluruhan, TPAK Aceh tercatat 63,44 persen.

Indikator Nilai
Penduduk usia kerja 4.188.000
Angkatan kerja 2.657.000
TPAK Aceh (keseluruhan) 63,44%
TPAK perempuan 45,50%
TPAK laki-laki 81,45%

Beban ganda dan tekanan psikososial

Menurut Cut Nasrulsyah, Pembimbing Kesehatan Kerja Ahli Muda Dinas Kesehatan Aceh dan Ketua PAKKI Aceh, pekerja perempuan sering menghadapi tanggung jawab ganda: di tempat kerja dan di rumah.

"Perempuan menjalankan dua ruang kehidupan sekaligus, yaitu ranah publik sebagai tenaga kerja dan ranah domestik sebagai pengelola keluarga. Kondisi ini dapat memunculkan beban kerja ganda, konflik peran, hingga tekanan fisik dan emosional,"

Tekanan psikososial tidak selalu tampak seperti cedera fisik. Gejalanya muncul perlahan: kelelahan berkepanjangan, kecemasan, gangguan konsentrasi, hingga konflik pekerjaan-keluarga yang berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas.

Sektor informal dan perlindungan kerja

Struktur ketenagakerjaan Aceh yang didominasi sektor informal menambah tantangan. Pekerja informal umumnya memiliki akses terbatas pada jaminan sosial, keselamatan, dan layanan kesehatan kerja.

Bagi perempuan yang memikul peran ganda, minimnya perlindungan di sektor informal meningkatkan kerentanan terhadap risiko kesehatan fisik dan psikososial.

Langkah perusahaan dan dukungan keluarga

Cut Nasrulsyah menekankan peran pemerintah dan dunia usaha untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung perempuan. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:

  • Penyediaan ruang laktasi dan fasilitas ramah perempuan
  • Pengaturan kerja fleksibel sesuai kebutuhan
  • Layanan konseling dan promosi kesehatan mental
  • Pencegahan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja

"Investasi pada kesehatan psikososial pekerja bukan sekadar persoalan biaya. Pekerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih mampu bekerja secara produktif dan berkelanjutan,"

Selain kebijakan perusahaan, pembagian pekerjaan domestik yang lebih setara di keluarga dinilai penting untuk mengurangi beban perempuan. Nilai kebersamaan dan gotong royong di masyarakat Aceh dapat menjadi modal sosial untuk perubahan ini.

Kesimpulan

Upaya meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja harus disertai penguatan perlindungan dan kualitas lingkungan kerja. Perhatian pada kesehatan psikososial pekerja perempuan menjadi bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia yang aman, sehat, produktif, dan bermartabat di Aceh.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait