Nasional

Sejarah dan Revitalisasi Stasiun Tawang Semarang

Bagikan:
Fasad depan Stasiun Tawang Semarang setelah revitalisasi yang mengembalikan ornamen bersejarah

Stasiun Tawang Semarang adalah bangunan bersejarah yang berdiri sejak 1914 dan berperan penting dalam perjalanan bangsa. Terletak di utara Kota Lama Semarang, stasiun ini menjadi saksi peristiwa penting, termasuk Pertempuran Lima Hari pada 15–19 Oktober 1945, serta jalur logistik dan tempat transit pengungsi pada masa Revolusi. Pada 30 Juli 2026, pemerintah meresmikan revitalisasi untuk mengembalikan tampilan historis sekaligus memperbarui fasilitas transportasi.

Pembangunan dan arsitektur

Stasiun Tawang dirancang oleh arsitek Belanda Ir. Sloth-Blauwboer yang bekerja untuk Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij (NIS). Peletakan batu pertama dilakukan pada 1911 oleh Anna Wilhelmina van Lennep, putri Kepala Teknisi NIS. Bangunan resmi dibuka pada 1 Juni 1914 sebagai stasiun penumpang utama yang menggantikan stasiun lama di Kemijen.

Lokasinya berada di lahan rawa di pinggir pusat perdagangan kolonial. Sehingga sebelum konstruksi, tanah dipadatkan dengan pelat beton selama berbulan-bulan. Gaya arsitektur Indis dan proporsi bangunan membuatnya mendapat pujian saat itu.

Penilaian estetika

Direksi NIS menghendaki tampilan yang sederhana namun estetis. Hasilnya dipuji publik. Bangunan memiliki panjang sekitar 175 meter dan ruang utama berkubah berukuran 20 x 18 meter. Pada masanya, stasiun ini disebut sebagai salah satu yang paling indah di daerah Hindia Belanda.

Pertempuran Lima Hari di Semarang

Peran Stasiun Tawang berubah saat akhir 1945. Ketegangan meningkat pada 14 Oktober 1945 ketika ratusan pemuda dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mencoba merebut persenjataan tentara Jepang yang masih berada di kota setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Letak stasiun yang strategis dan berdekatan dengan Lawang Sewu membuatnya menjadi titik pertempuran. Konflik berlangsung sengit selama lima hari dan akhirnya diakhiri melalui perundingan.

Jalur logistik dan penampungan pengungsi

Selain fungsi transportasi, Stasiun Tawang menjadi jalur distribusi logistik militer dan tempat transit bagi ribuan pengungsi pada masa konflik. Salah satu catatan penting mencatat kedatangan 794 pengungsi dari Yogyakarta pada 23 Mei 1949 yang tiba membawa barang-barang sederhana untuk melanjutkan hidup di Semarang.

Revitalisasi 2026 dan pernyataan resmi

Pada 30 Juli 2026, pemerintah meresmikan revitalisasi Stasiun Tawang. Proyek ini menata kembali fasad depan, hall utama, ornamen, dan sistem pencahayaan dengan merujuk pada dokumentasi sejarah. PT Kereta Api Indonesia menyatakan revitalisasi tahap pertama diselesaikan dalam 330 hari.

"Bangunan telah berusia 112 tahun. Ini dapat terus kita jaga kelestarian serta jejak sejarahnya,"

Presiden menegaskan pentingnya Stasiun Tawang dalam memori kenegaraan dan mengajak masyarakat menjaga situs bersejarah sebagai bagian dari identitas bangsa.

"Menjaga, melestarikan Stasiun Tawang ini tidak hanya menjaga dan melestarikan satu bangunan, tapi juga menjaga identitas dan menjaga memori sejarah,"

Makna dan pelestarian ke depan

Revitalisasi Stasiun Tawang menghadirkan keseimbangan antara pelestarian dan kebutuhan transportasi modern. Pemugaran yang mengembalikan bentuk historis diharapkan memperkuat fungsi edukasi dan pariwisata sejarah. Upaya ini juga menjadi pengingat perlunya perawatan berkelanjutan agar situs-situs sejarah tetap relevan bagi generasi mendatang.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait