Sinergi Bahari Kunci Masa Depan Laut Indonesia
Pakar menilai sinergi lintas sektor dan edukasi publik melalui oseanarium jadi kunci memaksimalkan potensi laut Indonesia. S.A. Wiraguna menyampaikan hal ini di Jakarta pada Jumat, 5 Juni 2026, menyoroti pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan untuk ekonomi dan ekosistem laut.
Potensi laut sebagai identitas dan modal pembangunan
Wiraguna menyatakan laut bukan sekadar batas wilayah negara, melainkan identitas bangsa dan sumber kehidupan. Indonesia punya jutaan kilometer persegi perairan dengan kekayaan hayati dari Sabang sampai Merauke.
Menurutnya, potensi bahari belum dimanfaatkan secara optimal, padahal sektor ini bisa menjadi modal besar untuk pembangunan berkelanjutan melalui pariwisata, konservasi, dan pendidikan.
Peran oseanarium dan edukasi publik
Wiraguna menekankan peran fasilitas edukasi kelautan, seperti BXSea Bintaro, sebagai gerbang bagi masyarakat untuk mengenal ekosistem bawah laut. Ia menyebut oseanarium bukan hanya tempat hiburan, melainkan "laboratorium hidup" bagi publik.
“Laut bukan sekadar batas wilayah. Laut adalah jantung identitas dan sumber kehidupan bangsa,”
Melalui pendekatan edukatif, pengunjung diharapkan memahami pentingnya konservasi sejak dini. Wiraguna menilai pengalaman langsung berdampak lebih besar dibanding pembelajaran teoritis semata.
Prinsip desain ruang edukasi kelautan
Untuk menjadikan fasilitas publik efektif, Wiraguna menyarankan desain yang mampu menggugah emosi dan mendorong tindakan nyata. Ia merinci tiga prinsip utama:
- Immersive — menghadirkan pengalaman mendalam agar pengunjung merasakan kedekatan dengan ekosistem laut.
- Accessible — memastikan edukasi dapat dinikmati semua kalangan dan mudah dipahami berbagai usia.
- Actionable — mendorong tindakan nyata setelah kunjungan, seperti keterlibatan dalam upaya pelestarian.
“Tugas fasilitas edukasi bukan hanya memberi informasi. Fasilitas harus menginspirasi perubahan perilaku,”
Sinergi lintas sektor sebagai fondasi
Wiraguna menekankan bahwa pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat perlu berkolaborasi. Sinergi ini dianggap sebagai fondasi pengembangan ekonomi biru yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologi.
Ia meyakini pariwisata, edukasi, dan konservasi saling menguatkan dan dapat membentuk siklus pembangunan berkelanjutan.
“Setiap terumbu karang yang rusak adalah kehilangan bersama. Karena itu, edukasi konservasi harus diperkuat,”
Kesimpulannya, masa depan laut Indonesia bergantung pada komitmen bersama untuk mengintegrasikan edukasi dan konservasi dalam pengelolaan sumber daya bahari.
“Laut Indonesia menunggu untuk dipahami dan dilindungi. Masa depannya bergantung pada komitmen bersama,”
Berita Terkait
Sari Yuliati Terpilih Aklamasi Ketua Umum Kosgoro 1957
Sari Yuliati ditetapkan aklamasi sebagai Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 periode 2026–2031 pada Mubes V di Jakar...
BPOM: 70% Peredaran Kosmetik Ilegal Didominasi Penjualan Online
BPOM menyebut lebih dari 70% peredaran kosmetik ilegal lewat platform online; BPOM perkuat pengawasan dan im...
Kemenhut Perkuat Manggala Agni Hadapi Karhutla di Sumatra
Kemenhut kerahkan Manggala Agni ke Aceh, Riau, Jambi, dan Sumsel untuk mempercepat pemadaman, pendinginan, d...
BPOM Sita 2,08 Juta Kosmetik Ilegal, Mayoritas Impor China
BPOM menyita 2.082.039 kosmetik ilegal—mayoritas impor China—setelah penyelidikan yang dimulai dari laporan...
BPOM Masukkan Lebih dari 2.000 Kosmetik ke Daftar Hitam
BPOM memasukkan lebih dari 2.000 item kosmetik ke daftar hitam, termasuk 900 item baru; sekitar 90% produk b...
BPOM Awasi 263.000 Tautan Jual Kosmetik Ilegal
BPOM mengawasi 263.000 tautan penjual kosmetik ilegal dan mengamankan lebih dari 2 juta produk; koordinasi d...