Ekonomi

KAI Pangkas Intensitas Energi 22,05% pada 2025

Bagikan:
Kereta api KAI di stasiun dengan fokus pada efisiensi energi dan bahan bakar ramah lingkungan

PT Kereta Api Indonesia (KAI) berhasil menekan intensitas pemakaian energi sebesar 22,05 persen pada 2025, sementara total konsumsi energi perusahaan turun 15,39 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini dicatat saat jumlah pelanggan meningkat dan volume angkutan barang melonjak.

Ringkasan capaian dan data utama

Data keberlanjutan energi KAI yang dirilis pada Sabtu, 25 Juli 2026, menunjukkan peningkatan jumlah pelanggan sebesar 8,67 persen dan volume angkutan barang mencapai 69.571.601 ton. Meski layanan meluas, intensitas energi per pelanggan turun dari 0,0263 menjadi 0,0205 gigajoule.

Konsumsi bahan bakar dan pengujian bahan bakar baru

KAI mencatat konsumsi biosolar sebesar 255.047,87 kiloliter untuk operasional harian. Sementara itu, penggunaan solar tercatat naik menjadi 318,78 kiloliter pada 2025 dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar 211,28 kiloliter.

Perusahaan juga telah menguji coba Biosolar B40 pada beberapa lokomotif layanan kereta barang. Infrastruktur pengisian bahan bakar ramah lingkungan untuk uji tersebut telah dibangun di lima lokasi berbeda.

Penjelasan manajemen KAI

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan upaya menjaga produktivitas energi di operasi kereta api, perawatan sarana, dan fasilitas pelayanan. Menurut Anne, pengelolaan energi dilakukan secara terukur agar peningkatan layanan tetap efisien.

“Energi menjadi salah satu unsur penting dalam menjalankan perjalanan kereta api, merawat sarana dan prasarana, serta mendukung fasilitas pelayanan. KAI terus mengelolanya secara terukur agar peningkatan layanan dapat berjalan dengan konsumsi energi yang semakin efisien,” ujar Anne.

“Data intensitas memberi gambaran mengenai hubungan antara energi yang digunakan dengan skala layanan yang dihasilkan. Semakin rendah intensitasnya, semakin efisien energi yang dibutuhkan untuk melayani pelanggan, mengelola layanan barang, dan mendukung aktivitas bisnis perusahaan,” kata Anne.

Dampak terhadap layanan dan langkah operasional

KAI Group melaporkan melayani 258.993.359 pelanggan pada semester pertama 2026. Manajemen menilai peningkatan pelanggan dan volume barang harus diimbangi pengelolaan sumber daya yang lebih baik untuk menjaga keandalan layanan dan mengendalikan dampak lingkungan.

“Pertumbuhan pelanggan dan besarnya volume barang perlu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang semakin baik. KAI mengarahkan efisiensi energi agar perjalanan tetap andal, kapasitas layanan terjaga, dan dampak lingkungan dapat dikelola secara bertahap,” ujar Anne.

Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya, menambahkan bahwa internal perusahaan menyelenggarakan pelatihan khusus untuk meningkatkan pemahaman praktis pekerja tentang penghematan energi.

“Efisiensi energi akan terus menjadi bagian dari evaluasi operasional KAI. Dengan skala pelayanan yang semakin besar, pengelolaan energi perlu dijalankan secara disiplin, berbasis data, dan terhubung dengan agenda keberlanjutan perusahaan,” kata Wisnu Pramudya.

Prospek dan implikasi

Penurunan intensitas energi menunjukkan tren efisiensi meski layanan meluas. Uji Biosolar B40 dan pembangunan infrastruktur pengisian di lima lokasi merupakan langkah konkret menuju bahan bakar lebih ramah lingkungan. Ke depan, KAI perlu melanjutkan pelatihan dan pemantauan berbasis data agar efisiensi energi tetap konsisten seiring pertumbuhan layanan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait