Gubernur Bank Sentral Bahas Peluang dan Risiko AI di EMEAP
Gubernur bank sentral Asia Pasifik berkumpul di Singapura akhir pekan ini dalam pertemuan Executive Meeting of East Asia-Pacific Central Banks emEAP untuk membahas peluang dan risiko pemanfaatan kecerdasan buatan AI bagi tugas bank sentral dan stabilitas sistem keuangan.
Ringkasan pertemuan
Pertemuan menyorot bagaimana AI dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional bank sentral, sambil menimbulkan risiko baru terhadap perekonomian dan stabilitas keuangan. Forum ini dihadiri oleh gubernur dari Australia, Hong Kong SAR, Malaysia, Jepang, Korea, dan negara lain di kawasan.
Potensi dan risiko AI
Delegasi menilai AI berpotensi mempercepat inovasi kebijakan dan analitik makroprudensial. Namun para gubernur juga mengingatkan adanya risiko ketergantungan pada penyedia teknologi, komputasi awan cloud, serta keterkaitan risiko antar lembaga dan lintas negara.
Langkah Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menekankan pendekatan bertahap dalam implementasi AI. Menurutnya penguatan kualitas data dan metadata, tata kelola, serta peningkatan kapabilitas merupakan prioritas utama.
Keberhasilan adopsi AI tidak hanya bergantung pada teknologi, juga pada sinergi antara manusia, proses, dan tata kelola yang baik
Sumber daya manusia serta pengembangan berbagai inovasi juga memanfaatkan AI dengan tetap menjaga kedaulatan data dan infrastruktur strategis
BI akan memperkuat kapasitas sumber daya manusia sambil menjaga kedaulatan data dan infrastruktur strategis, termasuk langkah mitigasi terhadap risiko operasional dan keamanan siber.
Kolaborasi regional dan tata kelola
Forum EMEAP sepakat memperkuat kerja sama regional untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengembangan tata kelola AI. Fokus kolaborasi meliputi penguatan ketahanan siber dan penanganan penipuan digital yang semakin bersifat lintas negara.
Para gubernur menilai bahwa tata kelola AI yang baik penting untuk mengantisipasi dampak negatif akibat ketergantungan pada pihak ketiga dan saling keterkaitan risiko antar lembaga keuangan.
Penutup dan prospek
EmEAP menetapkan agenda lanjutan untuk memperdalam diskusi teknis dan kebijakan terkait AI. Pertemuan EMEAP tahun depan akan dipimpin oleh Bank Indonesia, yang membuka peluang koordinasi lebih intensif di kawasan.
Implikasinya adalah bank sentral harus cepat beradaptasi, memperkuat tata kelola, dan membangun kapasitas agar pemanfaatan AI memberi manfaat maksimal tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...